<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152766682014154595</id><updated>2011-11-25T03:55:46.939-08:00</updated><title type='text'>Syafiq Jawad</title><subtitle type='html'>Aku ! Siapakah Aku ?, aku dan Aku. aku yang mana ? aku yang berperan, aku yang diperankan atau aku yang memainkan peran ?

Demikianlah kataku pada aku.

Satu yang aku tau, bahwa aku adalah yang Ada, aku ada ketika aku berfikir, merasa dan berkteasi. itulah kataku !

aku yang ber-Ada dan aku yang meg-ada.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://matasyafiq.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasyafiq.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Syafiq jawad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09914612557031593997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R1VlKf1BS4I/AAAAAAAAAAw/5mcTtd6MBZ8/S220/IMG_5616.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152766682014154595.post-7467205081495002848</id><published>2008-02-22T17:17:00.000-08:00</published><updated>2008-02-22T17:18:52.684-08:00</updated><title type='text'>Stagnasi, kemunduran atau Hanya Tradisi ?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-size:130%;" &gt;OSPEK adalah kata yang paling ditakuti oleh calon mahasiswa baru (maba) dalam sebuah kampus, tapi sebaliknya Ospek sangat diminati oleh para senior yang ada di hampir semua kampus. Fenomena OSPEK sudah menjadi menu senior pada setiap tahun penerimaan mahasiswa baru (Maba) di setiap kampus, pasalnya dalam menu tersebut pasti terdapat bumbum yang sangat di senangi para senior (meski tidak secara keseluruhan) yaitu penggojlokan atau perpeloncoan terhadap para juniornya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; font-family: arial; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Selama ini terdapat anggapan bahwa mahasiswa baru harus dipelonco karena dianggap tidak tahu apa-apa mengenai dunia baru mereka (dunia kampus), jadi bisa diperlakukan semau senior. Yang memelonco -mahasiswa senior- memiliki latar belakang dan motivasi masing-masing, sehingga Mahasiswa Junior sering mendapatkan perlakuan yang kurang semena-mena dan aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita coba telusuri, sebenarnya bagaimanasih sejarah Ospek itu ada? apa sih masud ospek ? dan apa tujuannya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah pendidikan di Indonesia (tahun 1960-an), kegiatan "perpeloncoan" ini disebut Mapram. Pada perjalanannya Mapram ternyata memakan banyak korban, sampai akhirnya dilayangkanlah surat keputusan (SK) Menteri P dan K tahun 1971 yang berisi penghapusan mapram yang kemudian diganti dengan Pekan Orientasi Studi (POS). Meskipun demikian, ternyata POS tidak membuahkan hasil atau menjadi solusi dari kekerasan yang terjadi pada Mapram, dan pada kenyataannya kekerasan tetap terjadi, maka pada akhirnya nama POS pun diganti dengan nama OS (Orientasi studi). Untuk yang terakhir kalinya nama OS pun berganti dengan Orientasi Studi dan Perkenalan Mahasiswa (OSPEK), yakni pada tahun 1990-an sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai Maksud dari OSPEK itu sendiri digagas sebagai proses inisiasi mahasiswa baru. Intinya memperkenalkan sistem pendidikan tinggi (pada kampus yang bersangkutan), cara belajar mandiri, dan penyesuaian pada suasana kampus baru dan Mahasiswa diperkenalkan dengan rule of conduct rumah yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Tujuan utama OSPEK secara adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="font-family: arial; text-align: justify;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Mewujudkan kekompakan di antara      mahasiswa baru &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Meninggalkan sifat      individualisme dalam diri peserta &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Menjadikan peserta seseorang      yang tangguh, mampu berpikir jernih dalam situasi sulit (istilah kerennya      never crack under pressure) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Mampu me-manage emosinya      (marah, takut, dll) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Mendapatkan informasi yang      penting (tau tempat beli kertas, kabel, fotokopi, makanan di malam hari) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Menjadikan disiplin &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Adapun alasan lain (meskipun kurang kuat dan tidak berlandasan) mengapa OSPEK harus dilaksanakan adalah, karena :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mahasiswa baru (Maba) gak kenal dengan dosen dan kakak kelas/ senior.&lt;br /&gt;2. Maba tidak menghormati atau respect pada dosen dan kakak kelas/ senior.&lt;br /&gt;3. Bukan mahasiwa dan gak seru kalau gak ikut ospek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, kalau ekses ospek dilihat lebih jauh, akar persoalannya terletak pada realitas praktik kekerasan sebagai realitas keseharian. Kekerasan dalam tataran yang bersifat ideologis sampai yang sangat pragmatis sudah terjadi sehari-hari. Secara tidak sadar, kekerasan yang disebut sebagai ekspresi dorongan manusia primitif menyatu dengan keseharian masyarakat Indonesia. Dalam posisi apa pun, kekerasan seolah- olah menjadi pilihan pertama, yang terkait langsung dengan kekuasaan dan nafsu berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa adalah kelompok masyarakat dengan ciri utama bernalar, berbeda dengan kelompok-kelompok warga masyarakat lain. Yang diandalkan adalah akal (nalar) dan bukan otot, yang berbeda dengan disiplin mati yang menafikan kelenturan menerima argumentasi dan alternatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ospek harus dikembalikan pada roh praksis pendidikan, yakni perguruan tinggi sebagai kelompok masyarakat ilmiah.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kebebasan, hati dan akal. itulah kata yang harus tetap diperjuangkan&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152766682014154595-7467205081495002848?l=matasyafiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasyafiq.blogspot.com/feeds/7467205081495002848/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1152766682014154595&amp;postID=7467205081495002848&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/7467205081495002848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/7467205081495002848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasyafiq.blogspot.com/2008/02/stagnasi-kemunduran-atau-hanya-tradisi.html' title='Stagnasi, kemunduran atau Hanya Tradisi ?'/><author><name>Syafiq jawad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09914612557031593997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R1VlKf1BS4I/AAAAAAAAAAw/5mcTtd6MBZ8/S220/IMG_5616.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152766682014154595.post-7870836762431466632</id><published>2008-02-18T06:55:00.000-08:00</published><updated>2008-02-18T07:01:05.561-08:00</updated><title type='text'>Kataku Mengenai Pembelajaran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R7mdXzwNErI/AAAAAAAAAA4/qEZbaKbTudU/s1600-h/DSC00226.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R7mdXzwNErI/AAAAAAAAAA4/qEZbaKbTudU/s320/DSC00226.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168335079739298482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Salah satu tonggak utama dalam membangun sebuah bangsa adalah pendidikan, pendidikan menjadi fondasi pertama dalam sebuah bangunan peradaban. Pendidikan yang dimaksud bukan berarti pendidikan yang berbentuk formal saja apalagi pendidikan yang terlembagakan, akan tetapi pendidikan yang mencakup semua elemen dan entitas yang ada didalamnyan (non formal lainnya). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Seperti yang kita ketahui bersama, maju dan tidaknya sebuah bangsa dinilai dari tinggi rendahnya kualitas pendidikan yang dibangun, ketika pendidikan didalamnya rendah maka dapat dipastikan generasi penerus serta kualitas yang akan dihasilkannya akan rendah pula.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Lahirnya abad pencerahan di dunia Barat yang disebuat dengan &lt;i style=""&gt;Aufkhlarung&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;Rennaissance&lt;/i&gt; ditandai dengan munculnya revolusi industri yang menandakan maju dan pesatnya ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan didapatkan dengan adanya sebuah pendidikan, dan dengan pendidikan pula sebuah bangsa dapat mengubah nasib bangsanya menuju masa pencerahan. Tidak hanya berhenti pada pendidikan saja, akan tetapi harus berlanjut pada system yang membentuk pendidikan tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Berangkat dari dasar diatas maka diperlukan sebuah system dan konsep mengenai kedua hal diatas, yakni pendidikan dan system didalamnya. Adapun konsep yang mencoba ingin ditawarkan adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 1cm; text-align: justify; text-indent: -25.05pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Perubahan Paradigma&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 1cm; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;yang dimaksud dengan perubahan paradigma adalah perubagan sudut pandang mengenai pembelajaran itu sendiri, perubahan paradigma ini (atau lebih spesifik lagi pada perubahan sudut pandang) lebih mengarah pada aktor-aktor pendidikan itu sendiri yakni, pendidik dan peserta didik (guru dan siswa).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 1cm; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Selama ini difahami bahwa peserta didik adalah objek dan pendidik sebagai subjek, dimana peserta didik diibaratkan seperti kertas kosong yang belum diisi dengan tulisan atau gambar dan warna-warna, peserta didik dijadikan sebuah objek yang dapat dibentuk seperti apapun, dan sekolah menjadi mesin-mesin pencetak dari hasrat guru yang menginginkan bentuk-bentuk tersebut, peserta didik (siswa) di angap sebagai sebuah adonan yang dapat dibentuk, dicetak dan diciptakan. pandangan dan paradigma yang terbangun diatas tidaklah mutlak salah, akan tetapi bagi proses pendidikan yang moderen dan berkualitas itu sangat berjauhan dan bersebrangan antara satu dengan lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 1cm; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Adapun paradigma yang harus dibangun pada para peserta didik dalam sebuah lembaga pendidikan adalah : siswa tidak lagi menjadi sebuah objek dan guru menjadi subjek. Siswa harus diperlakukan pula sebagi subjek yang mengerti akan sesuatu dan yang pasti mempunyai potensi akan sesautu hal yang besar. Tugas seorang guru disini adalah mengungkap dan dan mengkuak potensi yang ada tersebut sehingga muncul dan dapat diberdayakan. Antara guru dengan siswa tidak lagi menyimpan sebuah jarak atau garis demarkasi yang akan membuat suasana pembelajaran menjadi kaku dan monoton, sehingga kesan yang ditangkap oleh siswa bahwa sekolah adalah penjara dan tempat segala bentuk pengekangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 1cm; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Siwa : Subjek, Guru : Subjek. Ketika posisi tersebut sudah berada ditempat yang sama maka garis demarkasi yang selama ini tercipta akan runtuh dan ketika proses pembelajaran konsep yang berlaku adalah patner bukan proses menjadikan atau mentransfer sesuatu atau membentuk sang murid.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 1cm; text-align: justify; text-indent: -25.05pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Ruang membentuk pola pikir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 1cm; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Hal kedua yang fundamental dalam sebuah konsep pendidikan adalah konsep ruang atau tata letak ruangan itu sendiri, dimana setiap kelas (ruangan) yang ada disetiap sekolah adalah ruangan 5x7 dengan jendela dua dan pintu masuk disampingnya, papan tulis di depan dan bangku-bangku yang berjejer. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 1cm; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Sangat kaku dan rigid pemandangan yang ada dihadapan kita, dan itu kita lihat setiap hari dan setiap waktu. Kelas tidak lagi menjadi ruang untuk bermain, berkreasi dan beraktualisasi. Maka ruang menjadi sebuah entitas pendidikan yang cukup mempengaruhi pola piker dan tingkah laku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 6pt 1cm; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Ruang dalam sebuah system pendidikan harus menjadi sarana berkreasi, beraktualisasi dan berekspresi para peserta didik yang akan merangsang daya nalar dan kereatifitas berfikir peserta didik. Sehingga suasana dan kesan yang tercipta tidak lagi kaku dan rigid bahkan penjara pengekangan sekalipun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Masih banyak lagi konsep pendidikan professional dan moderan yang sebenarnya harus terpenuhi dalam sebuah system pendidikan, akan tetapi pada kesempatan kali ini saya hanya dapat memaparkan kedua hal tersebut karena kedua hal yang diungkapkan diatas merupakan entitas yang fundamen dalam sebuah system pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;Semoga pendidikan diindonesia mengalami perkenbangan yang pesat, selain dari kuantitas yang berkembang, aspek kualitaspun menjadi keniscayaan untuk berkembang dan maju. Dan semoga sekolah (pendidikan) tidak lagi menjadi penjara kreatifitas yang kaku dan rigid.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kebebasan, hati dan akal. itulah kata yang harus tetap diperjuangkan&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152766682014154595-7870836762431466632?l=matasyafiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasyafiq.blogspot.com/feeds/7870836762431466632/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1152766682014154595&amp;postID=7870836762431466632&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/7870836762431466632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/7870836762431466632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasyafiq.blogspot.com/2008/02/kataku-mengenai-pembelajaran.html' title='Kataku Mengenai Pembelajaran'/><author><name>Syafiq jawad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09914612557031593997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R1VlKf1BS4I/AAAAAAAAAAw/5mcTtd6MBZ8/S220/IMG_5616.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R7mdXzwNErI/AAAAAAAAAA4/qEZbaKbTudU/s72-c/DSC00226.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152766682014154595.post-5960818902427056465</id><published>2008-01-29T03:48:00.000-08:00</published><updated>2008-01-29T03:50:17.785-08:00</updated><title type='text'>Pemuda dan Pornografi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0.15pt 0.0001pt 171pt; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sebuah projek penghancuran mental &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0.15pt 0.0001pt 171pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Generasi Penerus Bangsa&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0.15pt 0.0001pt 171pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;Pengantar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Fenomena Pornografi dan pornoaksi pada masyarakat kita terkesan sudah menjadi sesuatu yang sangat lumrah dan wajar, realitas tersebut terjadi begitu lembut dan sistematis merasuk kedalam kultur masyarakat. Sebagai salah satu contoh dalam sebuah Rukun Warga (RW) atau Rukun Tetangga (RT) ketika hendak melaksanakan sebuah pagelaran atau acara-acara kerakyatan, kita ambil contoh acara 17 agustus-an, rasa-rasanya tidak lengkap ketika tidak mengundang satu &lt;i style=""&gt;group&lt;/i&gt; orkestra dangdut atau organ tunggal dangdut yang &lt;i style=""&gt;nota bene&lt;/i&gt; sarat dengan “aksi panas” seorang biduan saat beraksi diatas panggung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Memang dahulu pada tahun 70-an sampai tahun 80-an realitas pornografi dan pornoaksi jarang didapati, karena pada dekade tersebut sistem nilai dan norma-norma&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; pada masyarakat (adat ketimuran) apalagi di daerah pedalaman dan perkampungan masih sangat kuat mengakar. Akan tetapi bukan berarti aksi-aksi panas seorang biduan pada saat itu tidak ada, aksi panas tersebut tetap ada, namun aksi ersebut lebih tertutup dan terbatas yakni hanya untuk kalangan-kalangan tertentu saja (missal, untuk para pejabat, orang berduit, dan kalangan dewasa). Fenomena tersebut terjadi karena memang sistem nilai pada masyarakat masih sangat ketat dan kuat, sehingga aksi-aksi panas yang biasa diperagakan oleh “biduwanita”&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; masih dipandang sebagai sesuatu yang “tabu”, tidak wajar atau tidak biasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Secara Kultural masyarakat Bumi Nusantara (meski didaerah-daerah tertentu tidak) memang sudah akrab dengan nuansa erotisme, hal terseut bisa kita lihat pada sisa-sisa kultur masyarakat Indonesia pada umumya, seperti jaipongan dalam kultur budaya Jawa Barat -khususnya Pasundan- yang terkenal dengan goyang karawangnya, Jawa (mataram) , Bali dan tarian-tarian daerah lainnya yang tersebar diberbagai macam suku bangsa. Ini merupakan salah satu bukti bahwa memang masyarakat Indonesia sejak abad ke-15 jamannya kerajaan-kerajaan sudah akrab dengan nuansa erotis. Akan tetapi, yang menjadi titik tekan dan digaris bawahi disini adalah kesenian atau kultur tersebut tidak terbuka untuk khalayak umum seperti halnya sekarang, yang memang terbuka dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat luas, baik orang dewasa atau bahkan dibawah umur sekalipun (dibawah 17 tahun).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dari realitas diatas, bisa ditarik kesimpulan bahwa pada sistem sosial dan sistem kultural pada masyarakat kita telah terjadi pergeseran nilai yang cukup drastis, hanya dengan kurun waktu 20 tauan saja, maka nilai-nilai leluhur (ajaran nenek muyang) dan nilai agama telah digeser oleh budaya baru yang mengatasnamakan kebebasan dan Hak Asasi Manusia (HAM).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Secar logika, sistem nilai dan norma akan mempengaruhi pola (konstuksi) pikiran, seperti halnya kompor minyak digantikan dengan kompor gas. ketika pergeseran tersebut telah terjadi pada sistem kultural masyarakat maka dapat dipastikan pola pikir dan nilai-nilai yang berlaku pun akan berubah dan digeser oleh konstruksi berfikir baru yang tanpa disadari kita mengagung-agungkannya. Dari dasar pemikilan ini dapatlah kita korelasikan kepada sistem budaya lokal (&lt;i style=""&gt;local culture&lt;/i&gt;) masyarakat kita, yang dahulunya erotisme, pornografi dan porno aksi masih menjadi sesuatu yang tabu dan perbuatan yang tidak senonoh ketika di tarik kepermukaan maka sekarang tidak lagi, bahkan dapat diakses dan dikonsumsi oleh berbagai semua kalangan baik yang tua maupun muda bahkan manula sekalipun. Ketika dahulu sistem nilai (&lt;i style=""&gt;value&lt;/i&gt;) dan etika benar-benai dijunjung tinggi maka sekarang nilai dan norma tersebut telah digantikan oleh “atas nama” kebebasan serta hak asasai manusia yang nyatanya masih menjadi perdebatan yang belum pernah tuntas sampai sekarang,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada kesempatan ini penulis tidak akan banyak membahas pemasalaan kebebsan atau HAM, sebab permasalahan tersebut akan dibahas oleh penulis ain dalam buku ini. Pada kesempatan ini penulis akan memcoba mempertajam pembahasan keranah pemuda dan kulur budaya baru (gaul), yang selanjutnya erat berkaitan dengan pornografi dan pornoaksi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebelum kita masuk kepada pembahasan kultur pemuda pada waktu kekinian, alangkah baiknya kita mengulas bagaimana budaya tersebut bisa masuk dan menjamur pada masyarakat, terutama kaum muda indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sudah menjadi konsekwensi logis bagi satu kebudayaan untuk meningkat menjadi sebuah peradaban yang akan diakui dunia, maka kebudayaan tersebut haruslah diaplikasikan dan dilakukan oleh masyarakat pada volume yang besar (sebagian besar masyarakat dunia mengaplikasikan kebudayaan tersebut). Berangkat dari sebuah eksisensi kebudayaan yang berujung pada peradaban maka masing-masing kebudayaan haruslah berlomba untuk mendominasi kebudayaan-kebudayaan lain (baik dalam sebuah teritori kebangsaaan atau kenegaraan) sehingga kebudayaan tesebut diakui oleh mayoritas masyarakat dunia. Oleh karena itu dalam persaingan antar budaya, masing-masing kebudayaan akan banyak menggunakan berbagai macam cara supaya kebudayaan tersebut dapat diakui dan diaplikasikan oleh masyarakat lain. Terdapat berbagai macam metode dan cara agar sebuah kebudayaan diterima dan diadopsi oleh sebuah masyarakat, dan salah satunya adalah melalui Media, &lt;i style=""&gt;fashion&lt;/i&gt;, dan &lt;i style=""&gt;life stile&lt;/i&gt;. Ketika kebudayaan tersebut sudah masuk dan mengakar, sehingga menjadi sebuah pola pikir dan pola dalam bertingkah laku, maka kebudayaan tersebut telah berhasil menggeser kebudayaan lama&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dengan berkedok Globalisasi, sebuah budaya masuk dan mulai menancapkan akarnya di tanah-tanah negara berkembang, dan dengan isu globalisasi pula, yang &lt;i style=""&gt;nota bene&lt;/i&gt; membawa agenda budaya (pola pikir, gaya hidup, ekonomi maupun politik) mereka berusaha mendominasi kebudayan-kebudayaan lainnya sehingga budaya tersebut pudar dan yang ada hanya budaya baru yang berkehendak menjadi sebuah peradaban yang diakui dunia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tak ayal pula kebudayaan dijadikan alat kolonialisasi ala baru, ketika dahulu kolonialisme datang dengan senjata (senapan) maka sekarang kolonialisme datang dengan gaya baru dan sejata baru, yakni &lt;i style=""&gt;life stilye&lt;/i&gt;, ekonomi, budaya dan politik, lebih parahnya lagi kolonialisme gaya baru ini masuk dan menjamur secara tidak disadari, dan secara tidak sadar pula kita mulai tercerabut dari akar budaya, meminjam bahasanya Pramoedya Anantatoer “&lt;i style=""&gt;Pikun akan budaya sendiri&lt;/i&gt;”, sehingga yang terjadi adalah kita mulai ketergantungan (&lt;i style=""&gt;adict&lt;/i&gt;) dengan sesuatu yang sebenarnya bukan bagian dari diri kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sang ploklamator (Soekarno) telah mengungkapkan dengan tegas bahawa yang harus dibangun pada bangsa ini adalah karakter (&lt;i style=""&gt;caracter bulilding&lt;/i&gt;), ketika sebuah bangsa tidak mempunya kejelasan atas karakter, maka bangsa tersebut akan mudah untuk diombang-ambing serta dipermainkan oleh bangsa lain. Maka jelaslah apa yang telah terjadi sekarang, bangsa kita dengan mudahnya di permainkan oleh bangsa lain terutama oleh negara-negara maju seperti Amerika, Eropa, kita juga didiperolokkan oleh negara berkembang lainnya seperti Singapura dan Malaysia. Belum lama ini indonesia dipermainkan oleh Singapura melalui perjanjian ekstradisi, kemudian oleh malaysiya juga cukup sering dilecehkan, pertama permasalahan teritori negara di kalimantan dan kedua permasalahan hak cipta lagu daerah. Dari &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kedua permasalahan diatas saja bangsa ini tidak sangup menyelesaikannya, belum lagi permasalahan-permasalahan lainnya yang memang sangat merugikan bangsa sini, baik dari segi materil maupun imateril (kehormatan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Permasalahan karakter kebangsaan merupakan sesuatu yang fundamental, karena aspek primer ini akan melingkupi banyak hal terutama pola pikir dan pola dalam bertindak. Menyangkut permasalahan budaya hedon yang selama ini menjamur pada mental kaum muda adalah imbas atau ekses dari ketidak jelasannya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;karakter kebangsaaan yang seharusnya ditanamkan sejak dini. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sungguh ironis, bangsa yang dahulu dikatakan besar&lt;a style="" href="#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; serta kaya dengan kearifan lokal, kini sudah hancur dan mulai tergilas oleh sejarah. Mental-mental hedon inilah yang akan menimbulkan ekses buruk bagi keteguhan mental terytama mental kebangsaan, yang selanjutnya ia menjadi faktor utama merebaknya pornogerafi dan pornoaksi pada kalangan muda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jadi jelaslah, bahwa Pornografi dan Pornoaksi bukanlah akar dari permasalahan yang melanda bangsa ini terutama kaum pemuda. Yang menjadi permasalahan fundamental dan mendasar pada bangsa ini adalah permasalahan karakter kebangsaan yang sampai saat ini masih belum selesai. Dan yang mempunyai peran penting dan besar terhadap pembangunan karakter kebangsaan ini tentunya adalah pihak Negara (pemerintah), mengingat Negara sebagai penyelenggara pemerintahan, negaralah yang bertanggungjawab terhadap mundur dan majunya kebudayaan sebuah bangsa dan negara pulalah yang berperan penting terhadap terwujudnya sebuah &lt;i style=""&gt;good governance, &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang syarat akan kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Berangkat dari permasalahan fundamental ini; yakni karakter kebangsaan, maka ketika karakter kebangsaan belum selesai, dalam artian tertanam dan mengakar pada setiap individu dan masyarakat indonesia maka akan sangat memudahkan masuknya struktur budaya baru karena masyarakat kita tidak lagi mempunyai sistem pengamanan diri (&lt;i style=""&gt;scurity system&lt;/i&gt;) dalam menyaring (&lt;i style=""&gt;counter&lt;/i&gt;) berbagai macam sistem kebudayan baru yang masuk, dan pada akhinya menggeser budaya lama yakni sistem budaya lokal dan kearifan lokal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dapat kita lihat sekarang, kultur &lt;i style=""&gt;western&lt;/i&gt; (barat) seperti hedonisme, gaya hidp bebas yang berkedok Globalisasi mulai mewarnai dan menggeser struktur kebudayaan lama. inilah penyebab utama bangsa indonesia khususnya para pemuda tidak lagi mempunyai visi kedepan, terutama visi pembangunan yang akan mengarahkan bangsa ini kearah kemajuan yang lebih baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ketercerabutan sebuah kebudayaan akan sangat berbahaya bagi sebuah bangsa, karena ketika akar budaya telah tercerabut atau tergeser oleh sistem budaya baru maka dapat dipastikan masa depan bangsa tersebut tidak akan bertahan dalam menahan gempuran dan serangan arus global, terutama negara yang memang mempunyai maksud dan tujuan mendominasi dan mengeksploitasi bangsa ini. Maka jelaslah, identitas budaya sebagai karakter kebangsaan adalah harga mati bagi keutuhan dan keberlangsungan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;Ibu Kota Sebagi Pintu Gerbang Utama &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibu kota adalah pusat dari semua aktifitas, baik ilmu pengetahuan, ekonomi, budaya dan politik, dimana akulturasi berbagai macam budaya berinteraksi dan bersinggungan satu sama lain. Ibu kota juga identik dengan kemoderenan, dimana sistem sosial serta gaya hidup masyarakatnya dikatakan maju dan berkembang, fenomena ibu kota yang digambarkan dengan kemawahan, kemeriahan dan mimpi-mimpi kesenangan lainnya, mejadi daya tarik bagi masyarakat di luar kota untuk berbondong-bondong memasuki ibu kota tentunya dengan berbagai macam faktor dan alasan, terutama ekonomi (mudah mencari pekerjaan), akan tapi ada juga orang yang beralasan hanya ingin dibilang gaul atau dibilang modern semata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada beberapa faktor kenapa Ibu Kota dikatakan sebagai pusat kemodernan dan kemajuan, &lt;i style=""&gt;pertama&lt;/i&gt;, karena dia adalah pusat dari aktifitas pemerintahan, &lt;i style=""&gt;kedua&lt;/i&gt;, karena dia sebagai pusat pemerintahan maka ia juga menjadi pusat (gerbang utama) masuknya berbagaimacam kepentingan, baik ekonomi, budaya, politik dan lain sebagainya, termasuk juga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;arus teknologi dan informasi dari luar negara. Ditengan aktifitas dan arus global tersebut maka terjadilah pergesekan dan persinggungan budaya, anatra budaya lokal dan budaya luar sehingga menhasilkan akulturasi antar budaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Realitas yang terjadi khususnya di ibu kota dan umumnya di indonesia sekarang bukan akulturasi budaya akan tetapi lebih dekat kepada doktrinasi atau ekspansi budaya, karena ketika dikatakan akulturasi budaya adalah ketika ada percampuran (saling mempengaruhi) antara budaya lokal dengan budaya baru yang datang sehingga menciptakan ciri khas baru dalam sistem budaya tersebut. Dan realitas yang terjadi sekarang adalah ketika kita tercerabut dan mulai pikun dengan budaya kita sendiri dan sistem budaya luar masuk maka yang terjadi adalah dokrtinasi budaya atau pengambil alihan budaya, sehingga budaya lokal tergeser posisinya oleh kebudayaan baru. Terdapat beberapa faktor yang membuat budaya lokal tergeser posisinya oleh sistem budaya baru yang datangnya dari luar. Pertama, minimnya pendidikan dan pengetahuan mengenai budaya lokal. Kedua. Minimnya pemeliharaan dan pelestarian budaya lokal. Dan ketiga, gencarnya ekspansi budaya baru untuk mendominasi dan menggeser budaya lokal setempat. ketiga faktor inilah yang menjadi penyebab kenapa budaya lokal dapat digeser oleh kebudayaan baru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ketika ketiga syarat dan faktor penyebab tersebut telah terpenuhi, maka ekspansi kebudayaanpun sudah dapat dilaksanakan, tinggal bagaimana sistem kebudayaan baru tersebut mengemas isu bagaimana sistem kebudayaan tersebut dapat masuk dan diterima oleh masyarakat setempat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Globalisasi, dialah isu dan alat utama bagi sistem kebudayaan baru bisa masuk mendominasi dan dan menggeser kebudayaan setempat. Ditengah arus teknologi informasi yang semakin canggih, maka lengkaplah sudah bagi sistem budaya baru masuk untuk melancarkan aksi dan serangan-serangannya dalam berekspansi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada tulisan pengantar telah disinggung mengenai kepentingan-kepentingan sebuah budaya masuk, dan terbukti dengan jelas bahwa masuknya sebuah sistem budaya memang membawa kepentingan, baik itu sefatnya ekonomis maupun politis. Demikian juga halnya dengan Globalisasi, dengan rapihnya mereka mengkemas kepentingan-kepentingan tersebut kedalam paket yang namanya globalisi, padahal yang menjadi target dan saaran utama adalah westrnisasi dan kroni-kroninya yang nota bene membawa misi pengakuan terhadap peradaban barat serta eksploitasi dan penghancuran sebuah bangsa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Misi eksploitasi dan penghancuran tersebut dilakukan demi tercapainya sebuah kepentingan peradaban sehingga tidak ada yang menandingi dan melampaui kemajuan bangsa tersebut. Ketika sebuah bangsa lain maju maka eksistensi dia sebagai bangsa yang maju dan kuat akan terancam dan mungkin akan dikalahkan oleh bangsa lain yang lebih maju. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ketika Barat dengan pojek eksploitasi dan pengusaan peradabannya dijalankan, maka salahsatu caranya adalah dengan penghancuran mental dan gempuran-gempuran kebudayaan yang &lt;i style=""&gt;nota bene&lt;/i&gt; membawa efek negatif terhadap perkembangan dan kemajuan bangsa tersebut. Maka dilancarkan misi hedonisme, kebebasan, &lt;i style=""&gt;life stile&lt;/i&gt;, glamor, dan lain sebagainya yang pada kenyataanya disalah artikan. Dari budaya-budaya tersebut akhirnya menimbulkan efek negatif terhadap produktifitas dan progresitas perkebangan bangsa ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dari budaya-budaya yang disebutkan diatas lahirnya pola penghancuran baru, yaitu pornogerafi dan pornoaksi yang berujung pada seks bebas (&lt;i style=""&gt;free sex&lt;/i&gt;), dan memang khusus menghajar ranah mental, terutama mental kaum muda dan bahkan anak-anak yang &lt;i style=""&gt;nota bene&lt;/i&gt; adalah generasi penerus bangsa. Ketika generasi penerus telah berhasil diracuni dan dihancurkan mentalnya maka dapat dipastikan bahwa keberlangsungan bangsa tersebut akan suram minimalnya mandeg dan tidak berkembang, dan ketika kondisi ini telah tercapai maka mudahlah bagi mereka untuk mengeksploitasi dan menghancurkan bangsa ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Untuk melancarkan misi tersebut maka diciptakanlah berbagai macam perangkat alat untuk memfasilitasi aksi pornografi dan pornoaksi, diantaranya adalah media baik media cetak maupun elektronik, minuman keras, Club-club, dan gaya hidup yang memang diseting supaya orang tertarik untuk memilih dan mengikutinya. Katakan “Gaul dan Modern”, kata tersebut memang dibuat supaya orang tertarik dan mengikuti pola tersebut, seperti pakaian mini, ketat, sexsy, minum minuman keras sampai mabuk, dugem dan lain sebagainya, sehingga ketika orang tidak mengikuti gaya tersebut maka dia dikatakan tidak gaul atau ketinggalan jaman. Dan sekali saya katakan, pangsa pasar utamanya adalah kaum muda yang memang masih bermasalah dan haus akan eksistensi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Memang sangat cerdas barat dalam mengkemas sebuah isu, mereka menyentuh hal-hal primer dari kebutuhan manusia, seperti eksistensi, seks, ekonomi dan lain sebagnya. Kasus pornograpi pun demikian, ketika sex merupakan kebutuhan dasar biologis manusia maka mereka masuk dan melancarkan aksinya, baik dengan media cetak seperti majalah majalah porno, buku-buku bacaan porno dan komik-komik porno, media elektronik seperti VCD dan DVD porno, situs-situs porno melalui internet dan media-media lain yang memang sarat dengan pornografi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sungguh mengerikan, karena serangan-serangan tersebut dilakukan hampir setiap hari, bertahap dan sistematis pula. Mereka menciptakan pintu-pintu dan kemungkinan-kemungkinan sepaya kita terjerumus dan sulit untuk keluar, mereka datang tidak melalui pintu, tapi mereka datang melalui hasrat yang ada didalam diri kita, mereka siap sedia ketika mereka dibutuhkan, bahkan mereka hadir ketika waktu-waktu luang kita, dan mereka juga selalu hadir dan berada di ruang pribadi kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;Projek Penghancuran Mental&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;(Sebuah Perjalanan menapaki dunia hedon yang glamour)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tujuan utamaku datang ke ibukota adalah untuk menimba ilmu di salah satu Perguruan tinggi swasta di jakarta, demikianlah kata seorang temanku (sebut saja namanya Deden) bertutur dalam ceritanya, namun ditengah perjalanan &lt;i style=""&gt;study&lt;/i&gt;ku aku seakan tergiring oleh arus yang memang terasa kuat, sehingga membuatku terhanyut dan terlena dibuatnya. Semester pertama dan kedua berjalan dengan normal, bahkan nilaiku cukup membanggakan, namun pada semester-semester selanjutnya aku mulai bersentuhan dengan dunia yang sama sekali baru aku kenal, dialah dunia malam, dunia yang syarat dengan kehidupan glamor, hura-hura, kesenangan dan tanpa aturan yang ada hanya aku, akulah atauran itu sendiri, bangun ketika aku ingin bangun, tidur ketika aku ngantuk dan merasa lelah. Semua itu aku lakukan atas kehendakku sendiri, tidak ada orang yang berani memerintah atau menyuhku, karna aku adalah pribadi yang merdeka, dan aku berhak menentukan apapun keinginanku dan aku akan melakukan apapun yang aku suka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hubunganku dengan teman-teman sejawatku cukup dibilang baik, mungkin karena aku yang mempunyai kepribadian yang mudah bergaul dan senang mendengarkan setip cerita dan keluh kesah teman-teman. Seiring berjalannya waktu, aku semakin akrab dengan teman-teman dan lingkungan sekitarku, sehabis kuliah aku dan teman-teman sering jalan-jalan, baik itu ke mall-mall, pusat-pusat perbelanjaan atau tempat-temapat wisata sekitar jakarta bahkan keluarkota sekalipun. Hal itu kami lakukan karena memang hendank berbelanja, jalan-jalan, menghilangkan kepenatan, atau bahkan hanya iseng saja, membunuh waktu dengan nongkrong, berbincang-bincang, sampai hanya berdiam diri dan bengong menikmati suasana tempat yang kami kunjungi, kepuncak, ancol, anyer bahkan keluar kota seperti ke Bandung, Yogyakarta, Bali dan banyak lagi tempat yang kami kunjungi bersama-sama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pertamakalinya akau mulai masuk dan meninjakan kaki pada dunia malam adalah karena dibawa (diajak) oleh teman-teman disekitarku, waktu itu kebetulan ada acara &lt;i style=""&gt;Campus Night &lt;/i&gt;di salahsatu club malam yang terletak di kawasan Gatot Subroto. Sebagian besar pengunjung pada acara tersebut &lt;i style=""&gt;nota bene&lt;/i&gt; adalah anak-anak kuliahan yang biasa disebut sebagai anak gaul. Akupun semakin tertantang dan bersemangat dengan kata tersebut (&lt;i style=""&gt;campus night&lt;/i&gt;), karena yang ada dalam benakku, aku akan bertemu dengan teman-teman sebaya dari berbagai kampus lain, dan aku pikir aku akan melebarkan sayap pertemananku secara luas, dan kebetulan pada malam itu, aku dengan teman-teman mendapatkan beberapa &lt;i style=""&gt;guest list- free entry,&lt;/i&gt; jadi aku bebas masuk tanpa dipungut biaya, dan ketika masuk aku cukup menyebutkan pasword yang telah diberikan sebagai tanda &lt;i style=""&gt;free pass&lt;/i&gt;. Aku pikir tempat tersebut cukup terbilang elit dan mewahl, pasti harga ticketnyapun mahal, minimalnya 100 sampai 200 ribu sekali masuk. &lt;i style=""&gt;Scurrity&lt;/i&gt; di sanapun cukup banyak dan rata-rata badannya besar-besar dengan muka yang cukup menyeramkan, mereka berada pada setiap sudut ruangan terutama dipintu masuk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Karena pengalamanku yang kali pertama memasuki dunia malam (lingkungan baru), tentunya sikapku masih terasa kaku, ditengah kerumunan suasanan dan hiruk pikuk kegaduhan aku masih merasa asing, tapi pikirku, “nikmati saja”, dan kemudian aku mulai terbiasa dan mampu mencairkan suasana hati dan mulai masuk kedalam sikologis masa ditempat tersebut. Pada pembukaan acara sang DJ (&lt;i style=""&gt;disc jockee&lt;/i&gt;) mulai memainkan musik pembuka dengan lagu-lagu yang memicu dan menstimulus semua organ indra untuk bergerak. Suasana malam itu cukup panas karena hampir semua sisi ruang (baik yang duduk maupun berdiri) terisi oleh sesaknya manusia yang mulai terbawa dan terbius oleh lantunan musik. Sesudah DJ pertama selesai kemudian disambung dengan DJ berikutnya, pertunjungan ini ada sedikit berbeda karena selain sanga DJ memainkan musik, terdapat beberapa sosok wanita naik ke table yang ukurannya cukup tinggi yang terpasang di kanan, kiri dan tengah DJ,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan lihainya para wanita tersebut yang biasa disebut dengan &lt;i style=""&gt;sexy dancer&lt;/i&gt; bergoyang dengan sexy dan sarat dengan erotisme&lt;a style="" href="#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan tentunya mengundang hasrat sexualitas kaum laki-laki. Lengkaplah sudah perangkat &lt;i style=""&gt;night club&lt;/i&gt; dan membuat suasana semakin “hot” juga menggairahkan &lt;i style=""&gt;mood&lt;/i&gt; setiap pengunjung yang datang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Memang benar apa yang dikatakan orang, dunia malam sangat dekat dengan barang yang dikatakan haram. Terlihat dimeja-meja terdapat minuman keras dari berbagai macam jenis dan merek bergeletakan, ada juga yang ditenteng-tenteng dengan tangan sambil bergoyang dan berjingkrang-jingkrakan. Aku mulai mengamati setiap sudut ruang, baik dari settingan ruangan yang memang disett mendukung suasana, pakaian para pengunjung yang rapih, gaul dan sarat dengan model masa kini, modis dan sexy. Akupun cukup terheran apakah mereka&lt;a style="" href="#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; tidak merasa kedinginan dengan pakaian yang serba mini ? karena, AC pada ruangan itu sangat banyak dan cukup dingin, aku saja yang berpakaian dooble (t-shert dan kemeja) masih merasa kedinginan. Tapi akhirnya aku paham, karena seminim apapun pakaian mereka tetap saja tidak akan merasa kedinginan karena gerakan yang dilakukan memang mengundang untuk berkeringat, ditambah lagi dengan minuman beralkohol yang memang membuat hangat dibadan ketika diminum, ditambah lagi dengan berjubelnya pengunjung yang membuat sesak ruangan. Karena saking panasnya suhu pada ruangan tersebut, tak jarang dari mereka membuka pakainya untuk menghilangkan panas yang mereka rasakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Semua orang yang berada pada tempat sersebut seakan di sirep&lt;a style="" href="#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, mereka menari, tertawa dan bergerak sesuai dengan gerakan yang mereka inginkan, tak jarang pula mereka ribut gara-gara menyenggol atau menabrak pengunjung lain yang tidak mereka kenal. Mungkn disinilah tugasnya securrity, mereka harus sigap menghadapi setiap kejadian yang mengarah pada kegaduhan dan kerusuhan. Setiap pengunjung hadir dalam dunia mereka sendiri, secara lahiriyah mungkin mereka ada pada tempat yang sama, tapi seacara kesadanran mereka berada ditempat lain dimana mereka menginginkan dan membayangkannya. Inilah ekstase instan, dimana kesenangan dan kebahagiaan berada pada setiap individu dan sampailah mereka pada dunia dan menju tuhan&lt;a style="" href="#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;-nya masing-masing. Nuansa tersebut tidak akan berhenti samapi saatnya ketika DJ berhenti memainkan musik dan diganti dengan music recorder, lampu dinyalakan dan para pengunjung bubar berhamburan dan kembali kepada habitatnya masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; text-indent: 17.85pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Inilah kali pertamaku masuk kedalam dunia malam, dan untuk waktu selanutnya sampai saat ini aku masih menjalaninya. Banyak tempat yang sempat aku kunjungi, baik dalam kota maupun luar kota, dan akhirnya aku dapat menyimpulkan, kegiatan dan kehidupan &lt;i style=""&gt;night club&lt;/i&gt; dimana-mana sama yaitu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ekstase instan, mengejar kesenangan dan kebebasan&lt;a style="" href="#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang sifatnya relis materialis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Demikianlah sekelumit kisah, bagaimana seseorang dapat terjerumus kedalam kehidupan malam yang syarat dengan nuansa erotisme dan mengarah pada pornogerafi dan pornoaksi. Dari kisah diatas, kasus dunia malah bukanlah sebuah gerbang untuk menuju pornogerafi dan pornoaksi, tapi, kehidupan malam merupakan pintu kelanjutan dari pintu-pintu sebelumnya, yaitu Televisi dengan tontonan yang mengarah pada pornogerafi, VCD, DVD, internet dan banyak lagi media yang dijadikan ajang doktrinasi secara tidak langsung yang kemudian tersimpan dalam memory otak kita, dan lama-kelamaan akan terus membukit dan meluap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Disinalah letak dimana sistem nilai dan norma sudah tercerabut dari akar budaya kita. Ketercerabutan nilai tersebut terjadi tidak secara langsung tapi secara perlahan, sehingga kita tidak sempat menyadarinya, dan pada akhirnya kita terlena dan terbius oleh kultur budaya baru yang memang tidak memperhatikan bahkan tidak memperdulikan norma dan nilai. Keseronokan, porno, cabul dan lain sebaginya akhirnya menjadi konsumsi kaum muda generasi bangsa. Lantas apa yang harus kita lakukan, siapa yang patut untuk dipersalahkan ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada permasalahan ini tidak ada yang patut dipermasalahkan, baik pihak keluarga sebagai pelindung awal, lingkungan dan negara. Yang pasti semua pihak harus berperan aktif dalam mengcounter arus budaya urban&lt;a style="" href="#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, akan tetapi yang seharusnya berperan aktif dan memiliki konsern lebih adalah pemerintah, karena memang permasalahan ini sangat erat kaitannya dengan ketahanan dan keberlangsungan bangsa. Isu tersebut syarat dengan kepentingan global dengan kolonialismenya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Penutup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Proses penghancuran mental kaum muda sebagai generasi penerus bangsa, tidak akan terlepas dari kepentingan dan settingan global, terutama negara-negara maju yang &lt;i style=""&gt;nota bene&lt;/i&gt; hendak menancabkan fondasi-fondasi kekuasaannya diberbagai bangsa, termasuk indonesia, mengingat Negara Indonesia kaya dengan berbagai Sumber Daya Alam (SDA). Inilah yang seragan yang dilancarkan para neo kolonialis dan neo kapitalis, mereka dengan gencarnya masuk dan menyusup kesendi-sendi kebudayaan kita, dengan sistematis mereka mula menggerogoti identitas kebangsaaan kita, menggerogoti rasa nasionalisme kita&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan kemudian menghancurkannya kita secara perlahan, bukan oleh mereka, tapi oleh diri kita sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pornogerafi dan pornoaksi adalah salahsatu senjata yang mereka gunakan, majalah, komik, novel, TV, vcd, dvd, internet dan lain sebagainya merupakan media penghantar bagi mereka untuk masuk dan meracuni mental anak bangsa, sehingga mereka tidak mempunyai visi dan misi membangun bangsa pada waktu kedepan, dan berdaulat untuk waktu yang tidak terbatas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebagai kata penutup dari tulisan singkat ini adalah identitas kebangsaaan adalah aharga mati bagi NKRI. Karena ketika identitas kebangsaaan sudah mulai luntur pada diri setiap individu anak bangsa, maka habislah kita, kita tidak mempunyai lagi tameng serta sebagai &lt;i style=""&gt;counter&lt;/i&gt; dari serangan budaya yang dilancarkan oleh bangsa kolonial yang berdampigan dengan para kapitalis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; Nilai dan Norma yang dmaksud adalah adat istiadan (sopan santun dan etika) serta ajaran agama yang memang masih mengakar kuat pada masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; Biduwanita dalam definisinya adalah seorang penyanyi perempuan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; Budaya lama yang dimaksud adalah budaya lokal atau budaya yang menjadi warisan leluhur (&lt;i style=""&gt;local genius&lt;/i&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; pernah mempelopori pergerakan dan kebangkita negara-negara di &lt;st1:place st="on"&gt;asia&lt;/st1:place&gt; dan afrika&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 5.6pt; text-indent: -5.6pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; Inilah suasana pornogerafi dan porno aksi pada dunia malam. Yang memang memicu hasrat sexualitas setiap individu yang berkunjung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 5.6pt; text-indent: -5.6pt;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; Memang sebagian besar pengunjung perempuan memakai pakaian yang serba mini, bahkan sangat mini sehingga menyita dan menarik pandangan setiap laki-laki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; Dalam bahasa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; berarti dibius atau terbius&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; Tuhan yang dimaksud dalam konteks ini adalah sesuatu yang dipertuhan, dipuja dan diidam-idamkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn9"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; Paradigma Masyarakat memaknai kebebasan pada umumnya adalah kebebasan seperti yang diceritakan diatas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; Budaya apapun dan dari negara manapun yang masuk ke tanah Bumi Nusantara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kebebasan, hati dan akal. itulah kata yang harus tetap diperjuangkan&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152766682014154595-5960818902427056465?l=matasyafiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasyafiq.blogspot.com/feeds/5960818902427056465/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1152766682014154595&amp;postID=5960818902427056465&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/5960818902427056465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/5960818902427056465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasyafiq.blogspot.com/2008/01/pemuda-dan-pornografi.html' title='Pemuda dan Pornografi'/><author><name>Syafiq jawad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09914612557031593997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R1VlKf1BS4I/AAAAAAAAAAw/5mcTtd6MBZ8/S220/IMG_5616.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152766682014154595.post-2073086277366072039</id><published>2007-11-22T04:07:00.000-08:00</published><updated>2007-11-22T04:09:51.557-08:00</updated><title type='text'>Siapakan Manusia ?</title><content type='html'>&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 120%; font-family: &amp;quot;Bodoni MT Black&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;AFEKTIVITAS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 120%; font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ketika kita menjadi mahluk yang hanya dapat mengenal tanpa rasa maka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kita hanya akan memantukkan dunia seperti cermin-cermin yang netral. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Bergerak/ bereksistensi merupakan salah satu dari sekian sifat dasariah manusia, dengan sifat dasariah tersebut manusia -dengan kemampuan berbahasanya- mampu menciptakan simbol-simbol (nama-nama) pada wujud atau eksistensi lain yang ada disekelilingnya. Dalam proses interaksinya dengan wujud lain manusia mampu memperoleh pengetahuan yang kemudian masuk dan menginternalisasi pada diri subjek untuk menuju kesempurnaan eksistensinya (benda-benda dapat dimanifestasikan dan orang-orang dapt dikenal). Akan tetapi seperti yang telah diterangkan pada bab terdahulu bahwa pengetahuan tidakakan tercapai ketika subjek tidak membuka diri untuk berinteraksi dengan objeknya (alam atau wujud materil yang ada), maka yang akan terjadi adalah hanya sebuah pantulan-pantulan cermin alam/dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tidak hanya dengan pengetahuan manusia dan hewan dapat dibedakan dari tumbuhan dan benda-benda mati lainnya, manusia dan hewan memiliki kelebihan yang akhirnya dapat membedakan diri secara rill dengan tumbuh-tumbuhan atau benda-benda yang tidak bergerak lainnya, dialah afektivitas sebuah kegiatan merespon sesuatu yang ada di lingkungan atau disekelilingnya, dan dengan afektivitas pula hewan dan manusia “berada” secara aktif dalam dunia dan berpartisipasi dengan segala bentuk kejadian atau fenomena yang ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Jika benar kehadiran manusia didunia adalah dengan pengetahuan maka dengan afektivitaslah manuasia dapat mendalami dunia dan kehidupannya tentunya afektifitas dan pengetahuan sebagai pendorong untuk bergerak dan berbuat. Maka dengan ini jelaslah bahwa sebuah pengetahuan tidak akan menjadi wujud nyata (angan-angan, utopisme) ketika afektifitas tidak ada dan hadir dalam diri manusia, dan dengan afektivitas pulalah manusia dan hewan dapat merespons setiap sesuatu yang ada dalam lingkungannya secara nyata (apakah harus didekati atau dijauhi).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kekeyaan Dan Kompleksitas Afektivitas Manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa manusia memiliki kemampuan berbahasa dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pengetahuan, berbekal kedua hal tersebut manusia dapat membuat symbol, definisi dan mengenal segala sesuatu yang ada disekelilingnya. Telah disebutkan pula bahwa manusia dengan hewan memiliki kemampuan afektivitas dimana kemampuan tersebut dapat menjadi sebuah penentu apakah objek (Dunia yang telah termanifestasi) akan direspon atau tidak (digerakan dalam sebuah wujud perbuatan), karena ketika hewan atau manusia melihat atau memperhatikan sesuatau tidak ada respon tertentu (didekati atau dijauhi).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Afektifitas bias dipula dikatakan pokok pangkal dari setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia, baiak bemberi sebuah petanda, nama atau yang lainnya termasuk berbicara. Dengan adanya afektivitas manusia dapat menggerakan semua organ tubuh termasuk hatinya untuk melakukan sebuah tindakan, sebagai contoh ketika kita tertarik akan sesuatu hal maka dengan bekal pengetahuan dan afektivitas manusia akan mencoba membuat sebuah tindakan, ketika ketertarikan tersebut akan bembahayakan dirinya maka dia akan menjauh dan ketika ketertarikan itu membuat dirinya nyaman maka diakan akan terus mendekat dan terus berinteraksi dengannya. Demikian pula ketika kita berbicara, dengan afektivitas kita akan membuat sebuah gerakan (baik mimik wajah, tekanan dan gerakan tubuh lainnya) yang akan mengekspresikan pengetahuan atau keinginan kita, dan biasanya kita akan berbicara pada sesuatu (orang) yang membuat kita tertarik, cocok atau merasa nyaman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dengan afektivitas kita didorong untuk melakukan sesuatu hal (respon), baik mengikatkan diri dari sesuatu, melepaskan diri, mendekatkan diri, atau melakukan sebuah tindakan aktif seperti menyerang,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membela diri, bertempur dan sebagainya. Sampai pada titik ini kita memahami bagaimana kompleksitas afektivitas manusia atau bias dikatakan masih rancu atau abstrak karma sampai saat ini kita belum mengetahui yang mana sebenarnya kegiatan afektiv dari manusia itu sendiri, apakah semua kegiatan yang diakibatkan dari sebuah respon tertentu atau hanya kegiatan-kegiatan tertentu saja yang dapat diseput kegiatan afektiv ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Untuk memperjelas masalah ini, terlebih dahulu kita harus meneliti dan menganalisa afektivitas dari berbagai sudut pandang yang ada dan berbeda-beda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Disposisi Afektif Dasariah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;. Dari sedut pandang ini afektifitas dipandang dari dua segi/sudut dasariah atau berputar pada dua kutub bertentangan. Berawal dari sebuah respon terhadap sesuatu maka subjek (manusia) akan mencoba mendekati sesuatu ketika hal tersebut dianggap baik olehnya dan dia akan menjauhinya ketia itu dianggap jelek, jahat atau sesuatu yang akan merintanginya. Secara sepintas kedua afektivitas tersebut terkesan sebagi afektivitas dasar, padahal kalau kita perhatikan, katakanlah kegiatan mendekati, menyukai adadah mencintai dan menjauhi sesuatu, merintangi adalah membenci, maka akan menjadi jelas bahwa cintalah sebagai kegiatan afektif dasariah karena ketika sesuatu dipandang akan menjauhkan atau merintangi maka sebenarnya hal tersebut adalah sebuah penghalang bagi sesuatu yang kita cintai (menggapai, mendekati atau memilikinya). Jadi pada hakikatnya cita merupakan berada atau asal mula dari seluruh hidup/kegiatan afektif, sekurang-kurangnya cinta akan diri sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sikap-sikap&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;. Berangkat dari hal pertama diatas (cinta dan benci) akan melahirkan sebuah &lt;i style=""&gt;Anggapan atau kecenderungan &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;Maksud &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dari si subjek dalam berhubungan dengan objeknya. Ketika subjek menganggap objeknya jahat (berdasar karna jahat bukan sifat dasar afektif) maka akan melahirkan satu konsekuensi yakni, kebencian yang merakibat menjauhi atau malah melawan, menyarang atau menghilangkannya. Berbeda halnya dengan cinta sebagi sifat dasar afektif, dia akan menimbulkan 2 konsekuensi (sikap) yakni mendekati, memiliki dan interaksi kemudian ketika objek tersebut dianggap jahat atau buruk dia akan tetap berusaha untuk mendekati atau berinteraksi karena nilai, manfaat, keuntungan (yang ada pada objek) baik bagi untuk umum atau pribadi. Dalam kasus membenci, menjauhi atau menghilangkan berlaku sikap cinta diri sendiri (&lt;i style=""&gt;cinta utilitaris&lt;/i&gt;) dan pada kasus yang yang kedua yakni mendekati karena ada sebab –nilai, manfaat serta lainnya- disebut cinta kebaikan hati, tanpa pamrih (&lt;i style=""&gt;amour de bienveillance, amour desintresse, amour oblatife&lt;/i&gt;). Secara singkat dapat dikatakan cinta Utilitaris bersifat bermanfaat atau mementingkan diri sendiri/egois sedangkan cinta tanpa pamrih si objek akan tetap melakukan yang terbaik demi keutuhan nilai itu sendiri atau manfaat khalayak (&lt;i style=""&gt;apresiasi&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Penetuan sikap afektif subjek oleh objek&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;. Subjek dalam merespon objeknya menampilkan sebuah suasana yang disebut perasaan, perasaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merupakan disposisi afektif yang stabil yang tidak mengganggu keseimbangan psikologis subjek. Yang menjadi permasalahan disini adalah emosi, emosi merupakan kegiatan afektif yang mendadak dan kuat, yang disertai dengan gangguan organik (penyulut) dan dapat mengubah kelakuan subjek secara drastis. Emosi dapat menjadi sumber kekuatan, ketegasan, inisiatif kreativitas pada diri subjek ketika subjek dapat menguasai perasaannya, dilain pihak emosi juga dapat menjadi sumber bencana, memalukan dan merugikan ketika perasaan tersebut tidak dapat dikendalikan yang akhirnya membabi buta hal ini dapat diantisipasi dengan pengetahuan atau penguasaan diri (akal sehat). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Penguasaan subjek terhadap objek&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;. Masih dalam kerangka cinta dan benci (beserta rekan-rekannya atau sesuatu yang mendekati), subjek dalam hal merepons kedua hal tersebut dapat mengakibatkan kemungkinan-kemungkinan sikap afektif. Dalam hal mencintai atau menginginkan sesuatu hal maka dalam jangka waktu tertentu subjek akan mengalami sebuah usaha (waktu), dalam usaha tersebut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;subjek akan mengalami sebuah harapan-harapan akan kesenangan dan kegembiraan, keputusasaan dan sebagainya. Demikian juga dengan kebenciaan, subjek akan mengalami keresahan, kecurigaan, ketakutan, kemarahan bahkan semangat yang berkobar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Hasrat-hasrat jiwa demikianlah para filosof terdahulu mengatakan keadaan-keadaan afektif yang telah dipaparkan diatas. St Aquinas dalam buku &lt;i style=""&gt;Summa teologica&lt;/i&gt; bagian kedua, &lt;i style=""&gt;Decrates&lt;/i&gt; dalam buku Urayan &lt;i style=""&gt;tentang nafsu-nafsu&lt;/i&gt;, Spinoza dalam buku &lt;i style=""&gt;Etika&lt;/i&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; filosof yang disebutkan diatas sangat konsen membahas mengenai kegiatan afektif, secara garis besar nafsu dapat di kelompikan menjadi 2 ; &lt;i style=""&gt;pertama&lt;/i&gt;, nafsu yang cenderung mengikat pada hal-hal yang baik (nafsu hasrat), &lt;i style=""&gt;kedua&lt;/i&gt;, nafsu yang mempersiapkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk bertempur atas apa yang melawannya. Alferd Adler menyebut nafsu bertempur ini sebagai &lt;i style=""&gt;“Dorongan&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;untuk berkuasa”&lt;/i&gt; sedangkan nafsu yang cenderung mengikat pada kebaikan disebut oleh Etienne de Greef sebagai &lt;i style=""&gt;“Naluri-naluri Simpati”.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Lebih mendasar lagi sebuah kegiatan afektif sangat dipengaruhi oleh yang namanya suasana hati. Suasana hati dapat sangat berkaitan erat dengan kondisi biologis yakni ketika kegiatan biologis dapat terlaksana dengan baik maka akan membawa suasana yang menyenangkan dan ketika kegiatannya terbengkalai maka keresahan, tidak percaya diri dan sebagainya akan mempengaruhi suasana hati tersebut. Singkatnya afektivitas sangat di dasari oleh keadaan organik dan psikologis (tubuh dan roh).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Yang bukan perbuatan Afektif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Mengetahui adalah penerimaan, partisipasi dan komunikasi, demikin pula halnya dengan cinta orang sering menganggap pahwa cintalah cara mengetahui atau mengenal secara istimewa yakni berusaha untuk mengerti dan memahami. Dari kedua pandangan diatsa terkadang orang suka mengacaukan antara yang poko dan yang pangkal miasalnya saja ketika seseorang mengetahui tentang sesuatu hal maka dia dapat mengerjakannya atau mengaktualisasikannya kedalam wujud yang nyata karena dapat kita amati bahwa seorang teolog bulum pasti dia mengerjakan apa yang ada pada teologi, seorang psikolog belum tentu keadaan jiwanya selalu stabil dan seimbang dan seorang yang mengerti tentang kebenaran, keadilan dan cinta dia dapat mengaktualisasikan dalam wujud afektif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pengetahuan dengan cinta, seperti yang dikatakan diats sering terjadi kekacauan, demikian pula halnya dengan cinta itu sendiri, orang sering mengatakan perbuatan-perbuatan yang menuju pada cinta dikatakan cinta. Padahala cinta itu sendiri telah mendahului perbutan-perbuatan. Dilam proses mencintai itu sendiri banyak timbul kegiatan afektif miasalnya rasa cemburu, keresahan, kekesalam, pengharapan padahal yang esesnsi dari cinta iru sendiri adalah pengorbanan, keikhlasan hati, persuaian, kecocokan dan kerelaan. Dalam hal ini orang sering terjebak ketika dia banyak mengusahakan untuk memiliki sesuatu (cinta) akan tetapi dia malah terjebak pada tujuan-tujuan yang bukan cinta itu sendiri, maka lahirlah kekecewaan dan kesengsaraan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dalam afektivitas sering terjadi kesahpahaman, yakni hanya merujuk pada hasrat baik saja, padahal afektivitas itu sendiri setiap perubahan dari kesan yang ditangkap baik itu kebaikan atau keburukan entah dalam hal fisik atau psikologis tergantung pada keadaan yang ada disekitarnya, jadi afektifitas melingkupi semu kegiatan afektif. Afektifitas melingkupi semu kegiatan afektif yang berdasar pada kegiatan naluriah, pisik, psikis, spiritual dan lain sebagainya sejauh itu merupakan respon terhadap objek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Perbuatan afektif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Perbuatan atau kegiatan afektif harus dipahami sebagai segala pergerakan atau kegiatan batin yang ditarik oleh objek (menolak atau mendekatinya). Perbuatan afektif sedikit mirip dengan perbuatan mengenal karena mengenal juga merupakan sebuah tindakan vital/imanen, dalam hal ini subjek menjadi aktor utama dalam memberikan sebuah respon atau menerimanya. Perbuatan afektif juga dapat dikatakan berbuatan intensional dimana si subjek membuka dirinya dan dihubingkan dengan objek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dari penjelasan diatas masih terlihat samara mana yang pengetahuan dan mana yang afektivitas, dan sekarang kita akan mencoba membedkan keduanya; sedikitnya ada 5 yang membedakan pengetahuan dengan afektivitas: &lt;i style=""&gt;pertama&lt;/i&gt;, dalam pengetahuan si subjek membuka diri terhadap objek sedangkan afektif lebih bertindak pasif yakni subjek hanya menerima pengaruh dari objek apakah objeknya menarik atau menolak. &lt;i style=""&gt;Kedua&lt;/i&gt;, sejauh subjek di pengarhi oleh objek&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara intensif maka perbuatan afektif bias disebut &lt;i style=""&gt;lebih ekstatis ( dibawa keluar dari dirinya seolah-olah dilepaskan dari objeknya) &lt;/i&gt;dari perbuatan mengenal. &lt;i style=""&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, perbuatan afektif dipandang lebih paradoksal dan dimamis dimana&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perbuatan tersebut mempersiapkan dan mendirong dirinya untuk bergerak. &lt;i style=""&gt;Keempat&lt;/i&gt;, perbuatan afektif terlihat lebih realistis karena subjek lebih berhubungan apa yang nyata dan langsung terhadap objeknya, meskipun pada akhirnya subjek akan mengalami &lt;i style=""&gt;ekstatis&lt;/i&gt;. &lt;i style=""&gt;Kelima&lt;/i&gt;, perbuatan afektif lebih bersikap partisipasi dan kesatuan, dimana subjek dapat menglami dan berhubungan langsung dengan respond dan pengaruh yang ditimbulkan objek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Berlin Sans FB&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kondisi-kondisi Afektivitas manusia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Untuk mencapai afektivitas subjek harus berada dalam sebuah kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif, adapun kondisi-kondisi tersebut ialah : &lt;i style=""&gt;pertama&lt;/i&gt;, antara subjek dan objek harus ada ikatan kesamaan atau kesatuan itu sendiri, karena ketika tidak ada kesamaan maka tidak akan ada afektivitas. Sebagai contoh ketika kita berhubungan dengan sebuah objek maka dalam diri objek terdapat sesuatu yang membuat kita tertarik atau menjauhinya, sesuatau yang ada pada diri objek pasti juga ada dalam diri subjek yang akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif baik menerima atau menolak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;, nilai (baik dan buruk), dalam kondisi ini, ketika objek dipandang memiliki sebuah nilai maka subjek akan melahirkan kegiatan afektif, karena afektifitas itu sendiri adalah berdasar pada kecintaan akan sesuatu maka subjek pada akhirnya akan melahirkan kegiatan afektif untuk menolak atau menerima.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;, sifat dasariah dan kecenderungan kognitif, pada kondisi ini subjek akan dalam melakukan sebuah afektif harus ditunjang dengan sebuah sifat dasariah yang akan mendorong dia untuk lebih cenderung, selera, berkeinginan akan sesuatu yang pada akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif yang ternyata memang sesuai dengan sifat dasarih tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;, mengenal adalah kausa dari afektivitas. Dalam proses mengenal subjek akan mengalami kondisi dimana dia harus berusaha mendefinisikan objek yang akan dikenalinya dan ketika definisi tentang objek tersebut telah tercapai maka pada akhirnya akan lahir sebuh keputusan afektif apakah dia harus menyerang, mencintai, memp[ertahankan diri atau yang lainnya.&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;, imajinasi. Untuk menimbulkan kegiatan afektif maka imajinasi dapat menjadi sebuah pendorong, semangat, mempengaruhi bahkan membohongi. Pengetahuan pertama (baik dari pengalaman atau informasi dari pengenalan) akan melahirkan sebuah deskripsi awal tentang objek, maka dalam kondisi ini subjek akan dipengaruhi untuk bertindang seperti apa yang ia dapat pada penglaman-pengalaman dan imajinasi yang dia dapatkan terdahulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dari penjelasan-penjelasan diatas jelaslah bahwa perbuatan afektif tidak cukup subjek mengenal objek, menggunakannya dan menarik perhatiannya akan tetapi secara fundamental ia disipkan oleh keadaan dan kondisi itu sendiri yang menyebabkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pada penjelasan terdahulu telah di sebutkan bahwa kegiatan afektif harus ada peran roh/jiwa atau psikis. Dalam hal keinginan akan sesuatu yang akhirnya menimbulkan perbuatan afektif disana sangat berperan apa yang namanya cinta, kesenangan, kegembiraan dan kebahagiaan (beserta lawan-lawannya). Keinginan-keinginan tersebut akan membawa subjek pada kegiatan afektif yang bersifat eksistensial (materialis) yang pada akhirnya berakibat pemenuhan dan pemilikan akan sesuatu, dalam hal tersebut harus dicurigai bahwa kesenangan tersebut memperhatikan nilai yang ada atau sebuah kecintaan pribadi yang akhirnya menegasikan yang lain. Maka kebahagiaan sebagai sikap dasariah afektif menegaskan bahwa roh harus dadir disana dan bahwa kebahagiaan tidak berarti mengambil atau memiliki akan tetapi partisipasi dan intensionalitas dengan objeklah yang akhirnya akan menjadi kebahagiaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 120%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Californian FB&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dalam hal mencintai terkadang tidak terasa ada sebuh hirarki yang akhirnya menjadi sebuah prioritas atau menegasikan yang lainnya, contoh; ketika kita mencintai diri sendiri, kemudian mencintai orang lain yang mana yang akan menjadi sebuah prioritas ? (yang akan melahirkan perbuatan afektif). Hirarki yang takterdefinisi tersebut sebenarnya tidak perlu ada kata prioritas atau menegasi yang lainnya, karena dalam hal mencintai –seperti yang telah ditegaskan pada penjelasan sebelumnya- lebih mengungkapkan perbuatan afektif yang bersifat partisipasi, kesatuan dan penggabungan. Jadi jelaslah bahwa ketika kita dapat mencintai diri sendiri maka akan secara otomatis dia akan mencintai oranglain karena dia telah mengerti hakikat diri dan jiwa dari “keberadaannya dalam dunia”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kebebasan, hati dan akal. itulah kata yang harus tetap diperjuangkan&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152766682014154595-2073086277366072039?l=matasyafiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasyafiq.blogspot.com/feeds/2073086277366072039/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1152766682014154595&amp;postID=2073086277366072039&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/2073086277366072039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/2073086277366072039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasyafiq.blogspot.com/2007/11/siapakan-manusia.html' title='Siapakan Manusia ?'/><author><name>Syafiq jawad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09914612557031593997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R1VlKf1BS4I/AAAAAAAAAAw/5mcTtd6MBZ8/S220/IMG_5616.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152766682014154595.post-8372621102526059901</id><published>2007-11-22T04:05:00.001-08:00</published><updated>2007-11-22T04:05:50.548-08:00</updated><title type='text'>Arti dan Makna Lambang Paramadina</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Tempus Sans ITC&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Arti dan Makna Paramadina&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Footlight MT Light&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Muqaddimah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Universitas Paramadina merupakan bukti konkrit dari cita-cita para &lt;i style=""&gt;founding father&lt;/i&gt; Paramadina, butuh bertahun-tahun Cak Nur beserta rekan-rekan untuk mewujudkannya. Banyak sekali makna dan arti yang terkandung dalam Paramadina, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, terangkum dalam sebuah manifesto yang disebuat “Manifesto Paramadina”. Manifesto Paramadina dimaksudkan untuk menjabarkan arti dan makna dari Paramadina itu sendiri, yakni agar keterbukaan tumbuh menjadi budaya dalam pergaulan warga Negara dan kecenderungan dalam membentuk masa depan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Footlight MT Light&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Arti dan Makna&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Perkembangan Hidup Beragama dan daya baca pada masalah integrasi islam kedalam keindonesiaan mengukuhkan kesadaran akan tanggungjawab orang muslim, yang dilandasi wawasan asasi keberagamaan dalam menatap masa depan. Dan Ini merupakan makna yang terkandung dalam Paramadina itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Adapun Ide besar yang diusung sekaligus menjadi tonggak Paramadina adalah, Kedalaman Iman, Ketajaman Nalar, Kepekaan Nurani dan Kecakapan Berkarya. Adapun sekarang Paramadina lebih menitikberatkan pembahsan-pembahasannya pada ide sekularisme, pluralisme, dan Liberalisme.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Footlight MT Light&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Flash Back &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Footlight MT Light&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;(Sebagai Konsep dan Tonggak Dasar)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Umat Islam Indonesia menjadi sebuah fenomena tersendiri bagi kehidupan umat Islam dibelahan negara lain, karena umat Islam Indonesia terbentuk dari sebauh keragaman dan heterogenitas suku dan budaya. Dengan keragaman budaya Indonesia tersebut Islam dipaksa dan diharuskan untuk tampil dan menjadi yang terdepan, konstuktif dan produktif, mengingat banyaknya penduduk umat Islam yang ada didunia. Umat islam di Indonesia menjadi sebuah model percontohan bagi umat Islam dinegara-negara lain, dikarenakan perbedaan dan keragaman yang tercipta, ini menjadi sebuah model spesies umat Islam baru. Bagi Indonesia sendiri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;umat Islam dituntut untuk mampu tampil dengan ajarannya yang membawa kesejahteraan bagi seluruh alam (&lt;i style=""&gt;rahmatan lilalamin&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Selama 14 abad lebih Islam mencapai kejayaannya, dengan kejayaan itu pula umat islam banyak menyumbangkan dedikasinya untuk peradaban umat manusia, dari segai intelektualitas, keilmuan, sains, kebudayaan dan disiplin ilmu-ilmu lainnya. Peradaban tersebut kemudian diambil alih oleh orang Eropa (Eropa Barat) sejak abad 17 Masehi, setelah meletusnya perang salib, dimana perpustakaan terbesar umat Islam yang berada di Kordova dibakar habis, sedangkan kitab/buku-buku penting yang menjadi dasar lahirnya ilmu pengetahuan diangkut dan diadopsi oleh orang Barat. Maka sejak saat itu lahirlah &lt;i style=""&gt;Renaissance&lt;/i&gt; sebagai babak baru pencerahan bagi orang Eropa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dengan kondisi demikian umat Islam tidak perlu khawatir, karena spirit perubahan yang kreatif dan konstuktif tetap masih melekat disetiap benak umat Islam. Dan mulai abad 19 Masehi umat Islam mulai menemukan kembali jati dirinya dengan pertanyaan “kenapa umat Islam mundur ? dan satu jawabannya, karena umat Islam telah meninggalkan al-Quran”. Meninggalkan disini bukan berarti dan diartikan secara &lt;i style=""&gt;harfiyah &lt;/i&gt;semata akan tetapi diartikan secara &lt;i style=""&gt;maknawi&lt;/i&gt; (spirit). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Prinsip dan spirit perubahan yang ada, tercermin dalam system teologi dan kepercayaan umat Islam itu sendiri. Ini diawali dengan I’tikad dan janji kita terhadap tuhan, yakni, dua kalimah Syahadat “Laa illa ha illallah Muhammad ar-Rasulullah”. Dengan spirit tersebut umat Islam mempunyai modal besar untuk menciptakan sebuah peradaban baru, dan itu menjadi landasan paramadina dalam mewujudkan cita-citanya. Prinsip keimanan (Tauhid) akan membawa manusia (Indonesia) kepada sebuah peradaban modern baru, kenapa? karena dengan prinsip Tuhid tersebut, maka tertanam dalam diri setiap muslim bahwa tidak ada yang lebih suci dan sakral kecuali Allah. Dengan pensucian selain Allah tersebut maka segala sesuatu yang ada dihadapan Manusia semuanya tidak suci, dalam arti bias dirubah dan ditinjau kembali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dengan prinsip itu pula melahirkan konsep, bahwa ketika yang suci itu Tuhan maka manusia berada dalam posisi kotor atau berada dibawah Tuhan itu sendiri. Ini mengartikan bahwa setiap manusia itu semua sama, tidak ada sesuatu yang membedakannya. Ketika prinsip itu telah tertanam maka segala jenis perbedaa (suku, etnis, budaya, agama, dan latar belakang lainnya) menjadi hilang dan ternegasikan. Maka yang timbul adalah sikap saling menghormati dan menghargai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Footlight MT Light&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kemanunggalan Islam dan Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sikap dan rasa saling menghormati serta menghargai tercermin pula pada asas dan dasar idiologi Indonesia pula yakni Pancasila. Kesamarataan, persatuan dan kesatuan semua diramu para &lt;i style=""&gt;founding father&lt;/i&gt; Bangsa supaya bangsa ini menjadi bangsa yang besar, karma bangsa yang besar adalah bangsa yang memahami dan mengerti arti dari heterogenitas, perbedaan dan keragamaa, karma berangkat dari haltersebut persatuan dan kesatuan bangsa akan tercipta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Footlight MT Light&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ceita-cita Paramadina&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dengan modal kemerdekaan, persatuan dan kesatuan bangsa, maka diharapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, bangsa yang menghargai perbedaan dan keragaman. Dengan modal itu pula, kita sebagai generasi penerus bangsa harus bisa memahami dan menghayati apa yang dicita-citakan dan diharapkan oleh nenek moyang. Mengutip perkataan Bung Karno, ia mengatakan &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“zamen bundeling van alle kracheten van de natie” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;yang artinya adalah “Pengikatan bersama seluruh kekuatan bangsa”. Disambung dengan perkataan Almarhum Prof Dr. Nurcholish Madjdid, beliau mengatakan “Kekuatan itu akan terbentuk dan terwujud hanya dengan adanya peneguhan kembali ikatan batin atau komitment semua warga Negara kepada cita-cita nasional, disertai dengan pembaharuan tekad bersama untuk melaksanakannya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Berdasarkan itu pula, Maka Paramadina yang mempunyai spirit persatuan, egaliter, heterogenitas, dan cinta akan kasih sayang, berharap mewujudkan sebuah peradaban baru dibawah naungan Agama dan Negara, yakni persatuan dan kesatuan Nasional. Maka dari itu, Paramadina merupakan tempat persemaian &lt;b style=""&gt;Manusia Baru Indonesia&lt;/b&gt; yang berperadaban modern (&lt;i style=""&gt;civil society&lt;/i&gt;). &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Peradaban Baru Peradaban &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, Manusia Baru Manusia Paramadina.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Footlight MT Light&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Penutup &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apa yang terkandung dalam “Manifesto Paramadina” diharapkan menjadikan dasar dan bahan acuan bagi kita dalam membentuk sebuah peradaban baru. Mudah-mudahan kita sebagi kader bangsa benar-benar menjadi manusia baru yang berperadaban modern serta mewujudkan cita-cita besar Paramadina.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 15pt; font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kebebasan, hati dan akal. itulah kata yang harus tetap diperjuangkan&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152766682014154595-8372621102526059901?l=matasyafiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasyafiq.blogspot.com/feeds/8372621102526059901/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1152766682014154595&amp;postID=8372621102526059901&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/8372621102526059901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/8372621102526059901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasyafiq.blogspot.com/2007/11/arti-dan-makna-lambang-paramadina.html' title='Arti dan Makna Lambang Paramadina'/><author><name>Syafiq jawad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09914612557031593997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R1VlKf1BS4I/AAAAAAAAAAw/5mcTtd6MBZ8/S220/IMG_5616.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152766682014154595.post-4079122216864256690</id><published>2007-11-22T04:03:00.000-08:00</published><updated>2007-11-22T04:04:03.348-08:00</updated><title type='text'>PidatoKu</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Salam Damai dan salam kesejahteraan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Harus kita ingat, bahwa bangsa ini berdiri diatas tanah kuburan para prjuang, bangsa ini berdiri diatas cucuran darah, serakan tulang belulang dan curahan peluh para pejuang. Bangsa ini harus membayar mahal akan kemerdekaannya, bukan dengan pounsterling, bukan yen, bukan dengan dolar dan bukan dengan rupiah, tapi bangsa ini ada dengan mengorbankan ratusa, ribuan, jutaan bahkan triliunan nyawa para pahlawan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang dianugrahi kekayaan alam yang melimpahruah, bangsa yang dianugerahi kekayaan budaya yang beranekaragam suku bangsa. Akan tetapi bangsa Indonesia juga kaya akan berbagaimacam krisis, dari mulai krisis ekonomi yang berkepanjangan, krisis akan kesejahteraan, krisis akan keadilan, krisis akan kepercayaan KKN, Agama, suku, budaya, pendidikan sampai krisis akan identitas. Krisis multidimensional ini semakin menggelembung sehingga menimbulkan krisis-krisis baru yang sampai sekarang belum terlihat tanda-tanda kapan akan berakhir, maka diperlukan kekuatan besar dan tangguh untuk mengatasi krisis multidimensional ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai sejarahnya, akan tetapi kita tidakperlu tenggelam dalam angan-angan sejarah, kita tidakperlu terhanyut dalam candu romantisme. Sudah Enam puluh satu tahun bangsa indonesia menghirup udara segar kemerdekaan, sudah enam puluh satu tahun pula bangsa ini tetap terhimpit dan berada dilingkaran kemiskinan, lantas apa yang telah kita perbuat untuk bangsa ini ? apa dedikasi kita yang telah kita sumbangkan untuk bangsa ini ? apakah kita akan tinggal diam ? apakah kita akan terus diam ketika harkat dan martabat bangsa kita diinjak-injak oleh bangsa lain ? katakan tidak ! kita harus bangkit, kita harus bersatu dan kita harus menjadi bangsa yang bermartabat. Kita harus menjadi bangsa yang benar-benar merdeka dari segala macam bentuk penjajahan, termasuk penjajhan atas harga diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bung Karno sebagai founding father bangsa ini &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menegaskan akan pentingnya menyatukan kekuatan bangsa, beliau mengatakan “kita harus meningkatkan seluruh elemen kekuatan bangsa” kemudian perkataan tersebut disambut oleh guru besar bangsa yaitu Prof Dr. Nurcholish Madjid beliau mengatakan “Kekuatan akan terbentuk dan terwujud hanya dengan adanya peneguhan kembali ikatan batin semua warga Negara indonesia kepada cita-cita nasional, tidak cukup dengan itu, komitment harus disertai dengan peneguhan tekad bersama untuk melaksanakannya”. Lantas apa yang yang dimaksud dengan cita-cita nasional ? cita-cita nasional adalah cita-cita pensejahteraan dan penyempurnaan kondisi masyarakat indonesia dari mulai peningkatan kualitas pendidikan, perataan ekonomi berbasis kerakyatan, peningkatan pertahanan dan keamanan bangsa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Akan tetapi bagaimana cara untuk mewujudkan cita-cita nasional tersebut? caranya adalah, hapus atavisme, hapus nativisme, hapus individualisme, hapus ekslusifisme, hapus dehumanisme, hapus feodalisme dan hapus segala bentuk sadisme dan premanisme. Kita harus berani menunda kesenangan pribadi untuk mewujudkan kepentingan sosial kemudian kita mulai masuk kedalam lingkaran heterogenitas, kita harus masuk kedalam lingkaran pluralisme dan kemudian kita mulai merajut kembali pranata-pranata Demokrasi yang sudah mulai pudar, kita harus kembali kepada pancasila sebagai dasar negara kita, dimana semua elemen masyarakat yang plural itu dapat bersatu dan mengecap indahnya harmony, kedamaian dan kesejahteraan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kita tidak perlu pesimis dengan keadaan kita sekarang ini. Ingat idealisme bukan berarti utopisme tapi idealisme adalah cita-cita yang pada nantinya akan diwujudkan oleh anak cucu kita dan generasi penerus bangsa. “Bangunlah putra-putri pertiwi, tunjukan pada Dunia Bahwa Sebenarnya Kita MAMPU !!!”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Didalam gelap yang pekat, Masih ada secercah harap untuk semangat yang berkobar dan bangkit untuk berjuang !!! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kebebasan, hati dan akal. itulah kata yang harus tetap diperjuangkan&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152766682014154595-4079122216864256690?l=matasyafiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasyafiq.blogspot.com/feeds/4079122216864256690/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1152766682014154595&amp;postID=4079122216864256690&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/4079122216864256690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/4079122216864256690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasyafiq.blogspot.com/2007/11/pidatoku.html' title='PidatoKu'/><author><name>Syafiq jawad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09914612557031593997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R1VlKf1BS4I/AAAAAAAAAAw/5mcTtd6MBZ8/S220/IMG_5616.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152766682014154595.post-1023017281172001770</id><published>2007-11-22T04:01:00.000-08:00</published><updated>2007-11-22T04:02:15.367-08:00</updated><title type='text'>Sebuah Renungan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Cak Nur, Paramadina dan Pencetakan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kader Alternatif yang Berkarakter&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pengantar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Prof. Dr Nurcholis Madjid &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;atau akrab dipanggil Cak Nur &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;memiliki peranan penting dalam pembentukan wajah pergerakan kaum muda pada masanya, beliau menjadi tokoh pergerakan kaum muda intelektual dan juga massif. Cak Nur dengan ide-ide besarnya cukup menggoyangkan pemerintahan Suharto yang Otoriter dan militeristik, dengan ide-ide besar itu pula Cak Nur menjadi seorang tokoh yang cukup disegani, baik oleh kalangan pemerintah, pergerakan pemuda, maupun di dunia internasional. Meski demikian Cak Nur menyadari bahwa cukup silit untuk merubah budaya politik Indonesia yang cenderung pragmatis, oleh karena itu Cak Nur memberikan gagasan baru dalam proses pencetakan penerus bangsa, yakni dengan Paramadina (Civil Society, Masyarakat Madani). Dengan konsep tersebut Cak Nur memberikan Calon Pemimpin (sebagai Kader) Alternatif yang memiliki Kedalam iman, Kepekaan nurani, Kecakapan dalam Berkarya dan kemandirian jiwa. Dengan kelima karakter tersebut Cak Nur berharap semoga kader yang dikeluarkan oleh paramadina dapat menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sepanjang sejarah hidupnya Cak Nur mendedikasikan dirinya untuk kepentingan umat, dan manivestasi terbesar Cak Nur adalah Paramadina khususnya Universitas, yang beliau sendiri adalah pemimpinnya. Posisi tersbut beliau pilih tidak lain hanya untuk membuktikan keseriusan dan konsen beliau terhadap pembinaan kaum muda yang seterusnya akan meneruskan dan memimpin Bangsa ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; kearah yang lebih baik&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Cak Nur dan Masyarakat Madani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sepanjang sejarah hidupnya Cak Nur mendedikasikan diri untuk merancang Karakter bangsa Pemimpin Bangsa yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;akan membawa Perubahan Bangsa Indonesia Kearah yang lebih baik, bahkan, Cak Nur Berasumsi bahwa jaman keemasan islam berikutnya akan dimotori oleh Islam Indonesia. Asumsi tersebut Cak Nur ungkapkan tetntunya dengan beberapa alasan; pertama Bahwa sejarah akan terus berulang dan islam pada abad ke-6 M sampai abad 12 M memegang kendali peradaban dunia. Kedua, &lt;i style=""&gt;Ummatan Wasatan, &lt;/i&gt;Caknur memahami monsep &lt;i style=""&gt;Ummatan Wasatan &lt;/i&gt;(umat yang ada dalam pertengahan) adalah Umat yang pada waktu mendatang akan dapat memimpin merubah peradaban dan memimpin peradaban dunia. Ketiga sebagai kelanjutan dari konsep Ummata Wasatan adalah Umat dimana proses demokrasi dan Pluralisme dapat diaplikasikan secara menyeluruh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Demikianlah asumsi-asumsi dasar yang melatar belakangi cita-cita peradaban yang selama ini Cak Nur idam-idamkan. Akan tetapi apda kesempatan ini kita tidak akan membahas motif-motif yang melatarbelakangi cita-cita peradaban beliau akan tetapi kita akan banyak membahas mengenai konsep masyarakat madani yang beliau desain dengan warna Paramadina. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Paramadina dan &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;proyek &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Manusia Baru&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Paramadina secara terminologi berasal dari dua suku kata, &lt;i style=""&gt;parama&lt;/i&gt; berarti Kebijaksanaan, &lt;i style=""&gt;kedua&lt;/i&gt; dina berasal dari kata &lt;i style=""&gt;dien &lt;/i&gt;yang berarti tuntunan atau jalan petunjuk. Terminologi selanjutnya Paramadina Berasal dari kata para dan madina, para berarti sekumpulan orang, dan madina berasal dari kata madinah (negara madina yang durancang Nabi Muhammad), yang berarti modern, maju atau kota yang berperadaban modern dan maju. Dari kedua landasan tersebut maka Paramadina mempunyai 2 (dua) arti; Pertama, petunjuk, tuntunan atau agama kebijaksanaan dan, kedua, berarti sekumpulan orang (tempat orang-orang) yang mempunyai peradaban maju dan moderen. Oelh karena itu Paramadina baik dalam tataran institusi sosial (yayasan) dan Paramadina dalam tataran institusi pendidikan memiliki tujuan ; mencetak Manusia baru alternatif (sebagai pemimpin) yang memiliki kedalam iman, ketajaman nalar, kepekaan nurani, kecakapan dalam berkarya dan kemandirian jiwa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Yang menjadi cita-cita besar Cak Nur dkk dengan Paramadinanya adalah mencetak kader pemimpin bangsa yang berkarakter, yang akan membawa masa depan bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; menuju peradaban lebih maju. Maka salah satu cara untuk mewujudkan cita-cita tersebut adalah dengan pembentukan institusi pendidikan, dan tepatlah Cak Nur dkk mendirikan Universitas Paramadina sebagai laboratorium pengolahan kader yang diharapkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Universitas Patamadina selama menapaki umurnya yang ke-7 (tahun 2005) mengalami perkembangan yang pesat, tentunya dengan keberadaan orang-orang yang ada didalamnya, yang telah mendedikasikan dirinya demi perkembangan dan kualitas pendidikan didalamnya. Jadilah Universitas Paramadina mendapatkan nama besar yang cukup dipertimbangkan oleh berbagai kalangan, terutama oleh institusi pendiikan yang &lt;i style=""&gt;nota bene&lt;/i&gt; terhitung sudah lama berdiri. Nama besar Universitas Paramadina tidak pernah lepas dari nama &lt;i style=""&gt;almarhum&lt;/i&gt; Cak Nur, dan karena itu pula nama paramadina sampai saat ini memiliki gaung yang cukup dipertimbangkan, realitas tersebut -disepakati atau-pun tidak- pada dasarnya adalah nama besar Cak Nur, dan hal ini terjadi sampai sekarang tahun 2007, sedangkan Universitas Paramadina telah mengalami 3 kali pergantian kepemimpinan, dari Bp. Sudirman Said, Bp. Sohibul iman dan sekarang Bp. Anies Baswedan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Memang, sangat sulit untuk merealisasikan ide-ide besar Cak Nur dkk, butuh penggalian dan perenungan yang cukup dalam, tentunya juga strategi-strategi “pembumian” ide-ide tersebut supaya tidak tetap “bercokol dimenara gading”. Buakn saatnya lagi kita meributkan atau mempermasalahkan ide-ide Ck Nur, karena sudah saatnyalah kita mengaplikasikan dan membumikannya, tapi bukan berarti kajian mengenai ide-ide Cak Nur dkk yang disebut sebagi Manivesto Paramadina tetap kita gali dan kita kaji secara mendalam, supaya kita tidak salah mentafsirkan mengenai apa yang menjadi cita-cita beliau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Bersambung…………&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kebebasan, hati dan akal. itulah kata yang harus tetap diperjuangkan&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152766682014154595-1023017281172001770?l=matasyafiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasyafiq.blogspot.com/feeds/1023017281172001770/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1152766682014154595&amp;postID=1023017281172001770&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/1023017281172001770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/1023017281172001770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasyafiq.blogspot.com/2007/11/sebuah-renungan.html' title='Sebuah Renungan'/><author><name>Syafiq jawad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09914612557031593997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R1VlKf1BS4I/AAAAAAAAAAw/5mcTtd6MBZ8/S220/IMG_5616.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152766682014154595.post-433071558607699347</id><published>2007-11-22T03:58:00.000-08:00</published><updated>2007-11-22T04:00:33.652-08:00</updated><title type='text'>10 Fatform Indonesia Kita</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;CG Omega&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;10 FLATFORM &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;CG Omega&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;KEMBALI MEMBANGUN INDONESIA KITA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dalam garis/rentang sejarang yang telah dilalui bangsa Indonesia pernah menorehkan masa keemasan yang gemilang, masa dimana bangsa indonesia memiliki harkat dan martabat yang terhormat dihadapan bangsa-bangsa diasia bahkan dunia. Akan tetapi diusianya yang masih muda dan penuh dengan kelabilan, bangsa indonesia harus mengalami&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jatuh bangun dan menapaki masa trail and error untuk menentukan dan menghadapi masa depannya. Cak Nur mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul &lt;b style=""&gt;“INDONESIA KITA”&lt;/b&gt; bahwasannya Indonesia adalah bangsa yang masih berada dalam masa pertumbuhan “Penjadian Diri” (&lt;i style=""&gt;in making)&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dalam uraian essey yang diungkapkan oleh Cak Nur, beliau mencoba sharring dan menawarkan perspfektif baru dalam memandang bangsa ini, tentunya dalam rangka membangun bangsa menuju bangsa yang berharkat dan bermartabat. Dalam menyikapi permasalahan bangsa yang mengalami krisis multidimensional ini Cak Nur mencoba menawarkan pendangan dan pemikirannya dengan jargon dan ide-ide yang beliau usung dan dalam hal ini Cak Nur menawarkan 10 Flat Form Membangun Indonesia Kita, dengan ide-ide tersebut beliau berharap bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan modern&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dimana bangsa indonesia akan menjadi kiblat bangsa-bangsa yang ada seperti halnya masa gerakan Non-Balok tahun 1955 di bandung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Para &lt;i style=""&gt;faounding father&lt;/i&gt; bangsa ini menciptakan sebuah sistem dan cita-cita untuk membangun bangsa akan tetapi samapi saat sekarang perubahan tersebut masih belum terasa. Kita sebagai para pemuda yang menyandang gelar “agen of change” serta generasi penerus bangsa senantiasa harus meneruskan estafeta perjuangan dan cita-cita para &lt;i style=""&gt;founding father&lt;/i&gt; bangsa dengan modal dan warisan yang telah ada, yakni berdaulatnya bangsa Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ketika bangsa indonesia menginginkan perubahan yang mengarah pada kemajuan (kesejahteraan nasional) maka Cak Nur menegaskan bahwa bangsa indonesia harus dipimpin atau mempunyai tokoh atau pemimpin oleh orang yang memiliki visi kebangsaan dan memiliki intuisi kepemimpinan, tidak hanya memiliki visi perubahan saja, seorang pemimpin juga harus berperan aktif–agresif dalam melaksanakan visinya tersebut. Seorang pemimpin juga harus mengerti dan memahami apa itu &lt;i style=""&gt;good governence. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;1. Mewujudkan “&lt;i style=""&gt;Good governence&lt;/i&gt;”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Pada Smua Lpisan Pngelolaan Negara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Hal pertama yang diperlukan dan harus dilakukan oleh bangsa ini dalam mengakhiri krisis besarnya ialah pengelolaan negara secara baik dan benar, berkenaan dengan penyelenggaraan pemerintah dan penggunaan kekuasaan (&lt;i style=""&gt;running governence and exercising power&lt;/i&gt;). Kerisis multidimensional yang dirasa semakin akut oleh bangsa ini diibaratkan seperti gunung es dikedua kutub (kutub utara dan kutub selatan), dimana gunung es tersebut tidak akan pernah dan mustahil mencair kecuali gunung es tersebut kita geser dan kita seret ke zona tropis. Akan tetapi sangatlah sulit dan mustahil kita dapat menyeret gunung es tersebut ke zona tropis ketika kekuatan-kekuatan yang ada masih tercerai dan bercecer dimana-mana, selain kekuatan yang tercerai berai i’tikad untuk menyeret gunung es tersebut masih dilakukan secara parsial dan tidak menyeluruh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Permasalahan besar dan mendasar bangsa ini adalah budaya KKN (korupsi, Kolusi dan Nepotisme), kondisi tersebut Cak Nur ibaratkan sebagai gunung es yang setiap dipangsa akan tumbuh kuncup baru dipuncaknya. Seperti telah diungkapkan diatas diperlukan kekuatan besar untuk menyeret gunung es tersebut ke zona tropis (khatulistiwa) maka kekuatan besar tersebut adalah tekad bersama seluruh komponen bangsa, untuk banhu-membahu memanggung beban dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan Nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bangaimana energi besar tersebut akan akan terbentuk ?, energi besar tersebut akan terbentuk ketika kekuatan grass root dan para pemimpin bangsa ini berada digaris terdepan untuk memberikan tauladan yang baik, pemimpin yang memiliki visi kebangsaan yang jauh kedepan tentunya dengan keterampilan dan intuisi kepemimpinan yang tangguh (&lt;i style=""&gt;savour-faire&lt;/i&gt;), tidak hanya berhenti pada visi dan kearifan intuisi kepemimpinan saja mereka harus juga mempunyai tekad melaksanakan visi tersebut secara aktif-agresif serta tetap setia memelihara amanat dan kepercaraan umum dalam melaksanakannya, meskipun ia harus bertindak pragmatis berdasarkan realitas dalam masyarakat dengan segala kemungkinan dan hambatannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Selain yang diungkapkan diatas dalam rangka mewujudkan &lt;i style=""&gt;good governence&lt;/i&gt; diperlukan juga dukungan-dukungan yang menyeluruh dari segenap lapisan yang ada. &lt;i style=""&gt;Good governence&lt;/i&gt; memiliki keharusan-keharus yang harus senantiasa dilaksanakan yakni &lt;i style=""&gt;pertama,&lt;/i&gt; terbukanya partisipasi umum (didukung dengan kavabilitas) dalam proses pelaksanaan pemerintah serta penggunaan kekuasaan. &lt;i style=""&gt;kedua,&lt;/i&gt; transparansi dalam semua proses kegiatan kenegaraan khususnya dalam masalah kekayaan umum milik negara dan bangsa sehingga tidak terjadi ketersembunyian yang mengakibatkan penyelewengan-penyelewengan. &lt;i style=""&gt;ketiga,&lt;/i&gt; akuntabilitas, yaitu kesanggupan mempertanggung jawabkan semua proses dan tindakan kepada rakyat secara terbuka karena akan menjadi suatau kemustahilan dalam mewujudkan &lt;i style=""&gt;good governence&lt;/i&gt; ketika seluruh rakyat tidak diikutsertakan (tentunya dengan dasar komitmen bersama dan menjungjung tinggi asas negara dengan pembedaan secara tegas antara urusan pivat dan urusan publik). Pengawasan dalam proses pelaksanaan pemerintah serta penggunaan kekuasaan harus dilakukan secara ekstra, ekstra ketat dan ekstra keras.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Mau tidak mau Pengawasan yang super ekstra tersebut harus dilakukan karena mengingat budaya bangsa yang memiliki sejarah patrimonialisme dan feodalisme yangs angat kuat ditambah lagi dengan budaya penghambaan, sistem upeti, suap menyap dan perjudian yang dilakukan oleh kalangan-kalangan yang tidak peduli dengan standar moral karena mengejar keuntungan material semata. Selain itu ditambah lagi dengan mengendornya dimensi keruhanian dalam pola hidup “moderen” yang materialistik, orientasi hidup kebendaan yang didukung dengan budaya feodal sehingga menjadi tolak ukur sebuah kebenaran tanpa memperdulikan arti kebenaran &lt;i style=""&gt;an sich&lt;/i&gt;. Jadi pemberantasan KKN akan sangat banyak tergantung kepada seberapa jauhnya kita mampu memberantas patrimonialisme, feodalisme dan suap menyuap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;2. Penegakan Supremasi Hukum &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;dengan Konsisten dan Konsekuen&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Melemahnya kesadaran arah dan tujuan bernegara yang menggejala saat ini sangat berdampak negatif pada penegakan humum dan keadilan dan pelaksanaan &lt;i style=""&gt;good governence&lt;/i&gt; diharapkan akan mendorong pelaksanaan asas hukum dan keadilan secara tegar, tegas dan teguh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Penegakan hukum merupakan titik rawan dalam kehidupan bernegara, diaman hukum menjadi sebuah instrumen penting dalam keberlangsungan keadilan dan kesejahteraan sosial bangsa. Terlepas dari benar dan tidaknya kejahatan hukum yang terjadi Dewasa ini &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kondisi peradilan bangsa indonesia dirasa makin melemah, hal tersebut disinyalir karena terjadinya praktek suap menyuap dalam tubuh peradilan itu sendiri, selain praktek terkutuk tersebut disinyalir pula dalam tubuh peradilan terdapat mafia peradilan yang terorganisir dan rapih sehingga dunia peradilan terjerat oleh sebuah lingkaran setan ketidak adilan, penyelewengan dan penyimpangan-penyimpangan hukum yang dilindungi oleh helat hukum (&lt;i style=""&gt;legal device&lt;/i&gt;) sehingga mendapatkan legitimasi legal palsu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ketaatan kepada hukum dan aturan adalah pangkal keadaban dan dalam pribahasa kita dikenal dengan “DarKum” atau sadar hukum, memang cukup sulit untuk membudayakan kesadaran akan hukum sendiri akan tetapi maju dan tidaknya sebuah pemerintahan yang sehat tergantung dari penegakan supremasi hukum yang ada sehingga toidak terjadi “&lt;i style=""&gt;lawless society&lt;/i&gt;” atau hukum rimba tak beradab yang akan menuju sebuah kehancuran. Penindasan serta tindak kesewenang-wenangan menjadi legal bagi para mafia peradilan (penguasa hukum) yang ada ketika hal tersebut masih tetap dipelihara maka negara yang dicita-cita para &lt;i style=""&gt;founding father&lt;/i&gt; bangsa akan berubah menjadi negara kekuasaan (&lt;i style=""&gt;machtsstaat&lt;/i&gt;) dima yang lemah akan terus ditindas dan sengsara sedangkan yang kuat akan semakin bercokol dengan keangkuhannya dalam memangsa kaum yang lemah (&lt;i style=""&gt;survival of the fittes&lt;/i&gt;) secara brutal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Penegakan hukum adalah pokok yang sanagt penting dalam pewujudan &lt;i style=""&gt;clin governence &lt;/i&gt;menuju &lt;i style=""&gt;good governence &lt;/i&gt;dimana supremasi hukum menjadi tulang punggung bagi terciptanya kesejahteraan dan keadilas sosial bagi seluruh rakyat indosia yang tertuang dalam pancasila.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;3. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Melaksanakan Rekonsiliasi Nasional&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pelaksanaan rekonsiliasi tersebut dalapat dilaksanakan dengan 3 cara yakni ; &lt;i style=""&gt;Satu,&lt;/i&gt; Belajar dari kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulangi, &lt;i style=""&gt;Dua,&lt;/i&gt; Menatap masa depan dengan seluruh kekuatan, &lt;i style=""&gt;Tiga,&lt;/i&gt; Menegaskan garis pemisah antara masa lalu dan masa depan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ketiga cara yang diungkapkan diatas merupakan sebuah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya dan semua saling mengisi, melengkapi dan berkesinambungan, dimulai dari belajar dari kesalahan yang di lakukan oleh pemerintahan sebelumnya, baik orde baru maupun orde lama, karena seperti kata pepatah bahngsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Korelasi dengan pernyataan ini adalah bagaimana kita dapat mengambil sebuah hikmah dan i’tikad untuk tidak mengulanginya kembali, seperti kasus KKN yang sampai sekarang terus berulang dan tidak ada habisnya. Demikian juga kita harus menatap masa depan dengan penuh keoptimisan, ketika kita sudah belajar dari kesalahan maka tidak mesti kita pesimis dengan apa yang ada, yang pasti yang kita punya adalah merupakan sebuah modal yang berharga untuk masa depan. Selanjutkanya kita harus menentukan titik start dimana kita kita menyatakan garis pemisah antara masa lalu yang penuh dengan pelajaran dan masa depan sebagai titik tolak keberhasilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sebuah pengalaman pahit/buruk tidak boleh diingat secara mendalam sehingga menimbulkan perasaaan benci, dendam dan permusuhan akan tetapi kenangan tersebut tidak boleh pula dilupakan karena kalau sejarah tersebut dilupakan maka akan membuka (terbuka) pintu baru untuk mengulanginya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;4. Merintis Reformasi Ekonomi dengan Mengutamakan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Pengembangan Kegiatan Produktif dari Bawah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kemelaratan merupakan salah satu penyebab utama kejahatan. Kesejahteraan masyarakat menjadi PR dan tugas utama bagi pemerintah, karena itulah tujuan dibentuknya sebuah sistem pemerintahan yakni untuk membuat tatanan masyarakat yang aman dan sejahtera. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kalau kita kaji ulang dan mencoba untuk merenungkan kembali berbagai bentuk kejahatan yang terjadi dikalangan masyarakan menengah kebawah (meski tidak selalu menjadi alasan utama) yang menjadi motof kejahatan baik itu perampokan, penodongan, penjambretan dan pencurian semua berlandaskan aspek ekonomi yang terdesak, hal ini bukan berarti menguatkan paradigma “orang miskin malas bekerja” akan tetapi ketika lapangan pekerjaan yang ada sangat minim dan sangat birokratis apalagi dicampuri dengan KKN dan kualias plus kuantitas pendidikan yang ada sangat rendah maka kesempatan bagi kaum miskin untuk mendapatkan lahan pekerjaan menjadi sangat kecil dan sulit, hal tersebut mengakibat sebuah kesenjangan sosial dalam tubuh masyarakat sendiri yang akhirnya tidak ada kata lain selain mencuri, merampok dan lain-lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ketika pemerintah dapat menangani dan menangulangi permasalahan kemiskinan ini maka kesejahteraan akan dapat terwujud dan segala bentuk kejahatan akan dapat diminimalisir, kalau toh tetap saja masih menggelembung maka mungkin yang menjadi permasalahan bangsa ini adalah permasalahan moral dan akhlak yang bobrok. Akan tetapib sampai saat sekarang pemerintah kita kurang memperhatikan pengusaha swadaya dan pengusaha kecil, dimana mereka merupakan kaki penopang dan tonggak berdirinya indonesia dalam melangkah. Adapun perhatian perhatian yang dilakukan pemerintah sekarang, sekilas hanya terlihat sebagi wujud pormalitas semata karena pada kenyataannya pengusaha kecil dan swadaya tetap tidak dapat menikmati dari hasil dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;5. Mengembangkan dan Memperkuat Pranata Demokrasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“dalam masyarakat yang bebas tidak terjadi kelaparan”, secara sepintas ungkapan tersebut seperti main-main dan asal. Tapi kalu kita teliti ulang Menurut Cak Nur paling tidak akan ada dua jenis kebebasan disana yakni kebebasan dalam pengawasan kinerja sosial pemerintahan, dan pemberitaan sebagai peringatan atas pemerintah tentang bencana dan kelaparan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Mekanisme kinerja baik itu eksekutif, legislatif maupun yudikatif akan termenege dan terawasi secara ketat dan teliti, sehingga akan sedikit mengurangi tindak kecungan dalam pelaksanannya. Pengawasan ini berlaku dari mulai perekrutan (baik syarat-syarat dan kriteria) sampai tahap pelaksanaan tugas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;6. Meningkatkan Ketahana dan Keaman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lemahnya sistem keamanan dan ketahanan republik ini di mulai pada saat kejatuhannya Orde Baru, dimana aparatur penegak hukum tidak mendapatkan kepercayaannya kembali dari masyarakat. Hal itu terjadi akibat sistem yang sudah rapuh dalam tubuh aparatur itu sendiri sehingga ketidak percayaan masyarakat membawa sikap apatis terhadap pemerintahan, dan itu dapat dimanfaatkan oleh masing-masing lawan politik baik dari dalam negri maupun dari luar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;7. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Memelihara Ke-Bhinneka-an dan ke-Eka-an. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Seperti telah disebutkan pada awal pembahasan Indonesia terdiri dari wilayah-wilayah yang terpisah (kepulauan). Hal ini merupakan sebuah kerentanan yang sangat sehingga akan banyak mengeluarkan tenaga uantuk mengantisifasi keamanan dan ketahanannya. Maka dari itu harus ditumbuhkan sikap persatuan dan kesatuan antar dalam diri masyarakat indonesia yang terdiri dari masyarakat kepulauan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pemerintah harus dapat melaksanakan kepedulian dan keadilan twrhadap wilayah-wilayah yang ada, sebab ketika pemerintah tidak dapat mengelaborasi dan memelihara keutuhan masing-masing wilayah maka yang terjadi adalah perpecahan dan pemisahan dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) seperti terjadi pada timor-timor yang menjadi negara Timor Leste.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;8. Meratakan dan Meningkatkan mutu pendidikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Menurut Cak Nur ada dua jenis pendidikan yang harus dikembangkan yakni, pendidikan Agama dan Kesehatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pendidikan menjadi faktor pendik dalam pembangunan bangsa, pendidikan menjadi tonggak utama yang akan membuat bangsa ini meninggalkan keterpurukan. Akan tetapi pendidikan ini harus dapat dinikmati oleh semua masyarakat, jangan sampai pendidikan hanya dimiliki oelah orang-orang berduit semata, karna ini akan mengembalikan indonesia pada masa pra-kemerdekaan. Meskipun pada jaman ORBA diwajibkan progaram 9 tahun tapi tetap saja masyarakat tidak dapat menikmatinya. Dengan pendidikan masyarakat akan mendapatkan pemahaman dan pendidikan untuk dapat bertanggungjawab. Pendidikan Agama akan membuat masyarakat mengerti akan arti dari kepercayaan dan tanggungjawab, selain itu masyarakat akan semakin mengerti akan konsistensi dan perbaikan moral dan mental yang terpuji. Kesehatan sangat berkaitan dengan pendidikan karna kesehatan merupakan unsur penting dalam masyarakat, pendidikan tidak hanya meningkatkan aspek intelektual saja tapi juga menyakkut fitalitas jasmani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ketika warga indonesia yang memiliki daya intelektual yang tinggi tapi dari kesehatan kutrang maka intelektualitas akan sangat tidak berguna. Maka sangat senada dengan pepatah yang mengatakan bahwa didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;9. Mewujudkan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pernyataan tersebut tidak hanya menjadi selogan semata. Pemerintah harus benar-benar menggarap secara serius bagaimana keadilan sosial terwujud secara nyata. Ketika keadilan tersebut tidak terwujud maka konflik internal akan terjadi dan ini akan menjadi penyulut perpecahan dan ini dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak ingin perdamaian tercipta di bumi indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dari mulai Aceh dengan gerakan GAM-nya, Maluku dengan RMS (republik Maluku Selatan), Dan terakhir Papua yang akan memerdekakan diri. Maka apakah akan dibiarkan mereka memisahkan diri dari NKRI, kalau tidak, kenapa keadilan antar daertah tidak diwujudkan dan pemerataan perhatian tidak tertuju pada salah satu daerah saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;10. Turut menciptakan perdamaian dunia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tw Cen MT&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Cak Nur untuk yang terakhir kalinya mengungkapkan bagaimana kita dapat mewujudkan &lt;i style=""&gt;good governence&lt;/i&gt; di negara tercinta ini, sehingga ketika perdamaian dan kesejahteraan terjadi secara tidak langsung kita sebagi masyarakat indonesi akan trut serta menciptakan perdamaian di dunia. Perdamaian universal tidak akan terwujud selama kesejah teraan, keadikan dan keamanan belum terpenuhi dalam sekup kecil contihnya indonesia dengan daerah dan wilah kepulaiannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Karya ini merupakan Kutipan dari Buku indonesia Kita karya Prof. Dr. Nurcholish Madjid.&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kebebasan, hati dan akal. itulah kata yang harus tetap diperjuangkan&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152766682014154595-433071558607699347?l=matasyafiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasyafiq.blogspot.com/feeds/433071558607699347/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1152766682014154595&amp;postID=433071558607699347&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/433071558607699347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/433071558607699347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasyafiq.blogspot.com/2007/11/10-fatform-indonesia-kita.html' title='10 Fatform Indonesia Kita'/><author><name>Syafiq jawad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09914612557031593997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R1VlKf1BS4I/AAAAAAAAAAw/5mcTtd6MBZ8/S220/IMG_5616.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152766682014154595.post-167702748820839560</id><published>2007-11-22T03:16:00.000-08:00</published><updated>2007-11-22T03:26:16.529-08:00</updated><title type='text'>KEMBALI PADA TRI DHARMA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; font-weight: bold;" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:14;" &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;KEMBALI PADA TRI DHARMA&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; font-weight: bold;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Gerakan Pemurnian Mahasiswa Sebagai Agen Of Change”&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; font-weight: bold;" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; font-weight: bold;" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Sebu&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ah Pengantar&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 115%; font-weight: normal;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;            Pasca Kekuasaan Orde lama runtuh, muncullah Babak baru dalam sejarah Kemerdekaan Indonesia yang disebut dengan Orde Baru. Memang, pada saat itu kekuatan masih dipegang oleh kaum muda. Dengan naiknya Suharto pada umurnya yang ke-46 tahun sebagai presiden kedua maka tumbanglah rezim orde lama yang kemudian digantikan dengan Orde Baru, meskipun pada waktu kenaikan Suharto terdapat intrik politik yang sampai sekarang belum terkuak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R0VmgP2VMEI/AAAAAAAAAAU/wL2IOfYziu4/s1600-h/IMG_3601.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R0VmgP2VMEI/AAAAAAAAAAU/wL2IOfYziu4/s320/IMG_3601.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5135623654282178626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Pasca kenaikan Suharto sebagi Presiden kedua, &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Indonesia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;selama beberapa tahun mengalami beberapa kemajuan terutama dalam sector pembangunan, demikian pula dalam sector ekonomi, akan tetapi setelah kekuasaan tersebut membuai, dan melenakan jiwa seorang Suharto, maka sisi gelap seorang Suharto muncul, ia mulai menyusun strategi bagaimana melanggengkan kekuasaan tersebut, sebagaimana Sukarno dengan demokrasi terpimpinnya, dan kemudian mendeklarasikan diri sebagai presiden seumur hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;32 tahun Suharto memimpin Indonesia, dan selama itu pula pergerakan mahasiswa di Bumi Nusantara mati, pergerakan Mahasiswa di kebiri, diteror, dan dimati surikan, meskipun masih ada sebagian aktivis muda yang masih saja berani untuk menentang, tapi itu tidak berlangsung lama, seperti yang kita tahu pada akhirnya mereka menghilang (hilang, menghilang atau dihilangkan), atau mati pada usia muda yang sangat misterius.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Rezim Orde Baru semakin berkuasa dan merajalela, rezim inilah yang membuat bangsa Indonesia bangkrut, dan terbelkang dalam bebrbagai bidang, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lain sebgainya. Barulah pada tahun 1998 mahasiswa kembali menunjukan taringnya, hal tersebut dibuktikan dengan tumbangnya rezim Orde Baru yang digantikan dengan era reformasi yang dipelopori oleh Amien Rais dalam pergerakan politik dan Nurcholish Madjid (Cak Nur) dalam pergerakan intelektual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Setelah Era Reformasi berhasil menumbangkan Rezim Orde Baru, Ternyata tidak memberikan dampak yang cukup berarti bagi Kesejahteraan Bangsa, yang terjadi hanya krisis pada setiap lini kehidupan. Realitas Kehidupan masyarakat semakin memburuk, hal tersebut tidak ada bedanya dengan kondisi Orde Baru pada saat berkuasa, bahkan sempat tercetus ungkapan “lebih baik jamannya pak Harto, Mendapatkan Sembako tidak sulit”. Dari ungkapan tersebut dapatlah kita menarik kesimpulan bahwa Rezim boleh saja bergati nama dengan Reformasi, tapi kekuasaan masih saja dikuasi orang-orang lama. Inilah Era Baru, Orde Baru paling Paling baru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Pasca tragedi 1998 yang memakan banyak nyawa dari Mahasiswa, pergerakan mahasiswa kembali mengalami kemandulan. Krisis pergerakan terjadi dimana-mana, tidak ada pergerakan dan perubahan konkrit yang dihasilakan oleh mahasiswa, selain kepentingan individu dan golongannya sendiri. Pergerakan mahasiswa kembali dinodai oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab, yang menyebabkan nama mahasiswa tercemar, dan tercoreng dimata masyarakat. Pergerakan mahasiswa dikuasi oleh kepentingan-kepentingan pragmatis individual, pergerakan mahasiswa tidak lagi murni sebagaimana namanya, ideologi telah tercemar oleh kepentingan sesaat. Yang dipikirkan hanya kekuasaan dan karir politik belaka, mereka tidak lagi memikirkan kepentingan public dan kesejahteraan masyarakat, mereka tidak berani menunda kesenangan sesaat, demi kesenangan hakiki yang lebih besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Mereka yang menamakan dirinya mahasiswa itu telah mandul dengan ide kreatif, konstruktif mereka kering dengan jiwa kepemimpinan, mereka hanya pintar menjilat untuk memuaskan nafsu mereka sendiri. Mereka berani menjual nama mahasiswa hanya demi jumlah nominal yang secuil kemudian mengkotak-kotakan pergerakan mahasiswa itu sendiri (antara Negeri dengan Swasta), mereka pikir dengan demikian mereka akan lebih mudah untuk mencapai kekuasan, tapi sebenarnya mereka telah dibodohi, mereka telah ditanduk seperti halnya kerbau bodoh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Reformasi tidak lagi menjadi semangat yang membakar jiwa-jiwa revolusioner, kini, reformasi hanya menjadi jargon untuk mendapatkan kursi, kekuasan dan jabatan, reformasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;telah beralih fungsi menjadi ideologi pragmatis (&lt;i style=""&gt;pragmatic ideology&lt;/i&gt;) dari sebuah kepentingan. Ini bukan kesalahan siapa-siapa, tapi ini adalah kesalahan mereka yang tidak mempunyai karakter, nasionalisme mereka tumpul dan wawasan kebangsaan mereka dangkal, mereka tidak siap untuk memimpin bangsa ini karena mereka tidak mempunyai formula untuk menyelesaikan segala bentuk permasalahan bangsa, oleh karena itu mereka mudah untuk diombang-ambing dan dikelabui dengan sogokan nominal yang secuil. Maka benarlah, mereka bukan seorang pemimpin, penjilat tetaplah penjilat dan selamanya akan menjadi penjilat, merekalah yang membuat Negara ini bangkrut dan hancur, Alam-pun tahu itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sebagi mahasiswa dan generasi muda, Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;Yang harus kita lakukan sekarang adalah, melakukan gerakan pemurnian Mahasiswa. Dan mengembalikan mahasiswa kepada fungsinya, yaitu sebagai &lt;i style=""&gt;agen of change&lt;/i&gt;, tentu saja dengan landasan Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni, &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;dharma pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;sebagai gerakan intelektual, Kontrol Sosial Politik dan Pengabdian Masyarakat). Tentunya dengan pertimbangan yang Logis, Etis dan Estetis. Kita harus mempunyai basis idiologis yang jelas dengan kajian yang ketat, Itulah yang harus kita lakukan sekarang. Tanpa landasan tersebut kita tidak akan menjadi sesuatu, dan tanpa landasan tersebut pergerakan kita tidak ajan jadi apa, ia akan jadi pragmatis, parsial dan simplistic, kita hanya akan menjadi zombie yakni tubuh yang bergerah tanpa memiliki roh, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p style="font-weight: normal;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Hanya satu kata, Bergerak, bergerak dan bergerak. Itulah yang harus kita lakukan sekarang. Sekarang, sekarang dan sekarang. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang sama dengan generasi sebelum kita.&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kebebasan, hati dan akal. itulah kata yang harus tetap diperjuangkan&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152766682014154595-167702748820839560?l=matasyafiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasyafiq.blogspot.com/feeds/167702748820839560/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1152766682014154595&amp;postID=167702748820839560&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/167702748820839560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/167702748820839560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasyafiq.blogspot.com/2007/11/kembali-pada-tri-dharma.html' title='KEMBALI PADA TRI DHARMA'/><author><name>Syafiq jawad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09914612557031593997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R1VlKf1BS4I/AAAAAAAAAAw/5mcTtd6MBZ8/S220/IMG_5616.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R0VmgP2VMEI/AAAAAAAAAAU/wL2IOfYziu4/s72-c/IMG_3601.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152766682014154595.post-8314031775886773131</id><published>2007-05-04T01:14:00.000-07:00</published><updated>2007-05-04T01:21:57.928-07:00</updated><title type='text'>Diri, Budaya dan Beradaban</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5060616941001992082" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 292px; CURSOR: hand; HEIGHT: 217px" height="227" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/RjrsS6i_Z5I/AAAAAAAAAAM/Z7bQLJ0F5rw/s320/untitled,..jpg" width="315" border="0" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;K&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;ebudayaan terkait erat dengan dimensi-dimensi manusia, Dan dapat dilihat dalam dua sudut, pertama: kebudayaan sebagai kata benda. Maksud kebudayaaan ini berarti kebudayaan sebagai hasil dan produksi kreativitas dengan ciri sebagai sesuatu yang sudah jadi, beku, dan mati (meski tetap merupakan hasil kesadaran kegiatan kehendak dan buah rohani dan jasmani manusia). Kedua: kebudayaan sebagai kata kerja, berarti kebudayaan yang di lihat sebagi sebuah proses, yang bertumbuh dan berkembang terus sebagai ekspresi tindakan sadar manusia dalam mengolah lingkungan (evolusi). Dalam artian tersebut, kebudayaan itu dinamis, aktif-kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Franz Magnis Suseno, kebudayaan adalah sesuatu yang hidup, seiring dengan nafas dan gerak manusia. Dalam ungkapan tersebut. Ia menegaskan kembali bahwa kebudayaan adalah manusia itu sendiri sehingga setiap nafas dan gerak yang diciptakan oleh manusia merupakan sebuah kebudayaan yang mempunyai landasan logis, estetis dan merafisis. jadi ketika manusia berkembang maka kebudayaan juga berkembang dan ketika manusia mati atau stagnan maka kebudayaan juga akan mati dan stagnan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan manusia dan kebudayaan tergantung bagaimana individu atau masyarakat (manusia) dalam memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan, karena akar dari kebudayaan adalah ilmu pengetahuan (observasi, keterbukaan, kritik, dan empiris). yang lebih spesifik dan lebih urgen dalam penggalian ilmu pengetahuan dan kebudayaan adalah bagaimana manusia dapat mengetahui tentang jadi diri (hakekat) manusia itu sendiri, penggalian dan pengenalan, Jati diri akan berimbas pada proses terciptanya ilmu pengetahuan dan dari proses pengolahan ilmu pengetahuan akan tercipta sebuah kebudayaan dan sebagai klimaks dari proses-proses yang diciptakan maka akan lahir sebuah peradaban. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berbicara masalah peradaban tidak akan terlepas dari kebudayaan, dan ketika merancang sebuah kebudayaan (yang akan menjadi identitas) dibutuhkan pranata-pranata yang akan menopang keberlangsungan agar tetap bisa berdiri kokoh. Adapun ruang lingkup dari pranata-pranata tersebut antara lain; wadah (pasar atau Café), system, program dan kurikulum. Ketika pranata-pranata tersebut telah dibangun maka kebudayaan diharapkan akan berjalan dan sanggup untuk berlari, akan tetapi untuk menciptakan pranata-pranata tersebut tidaklah mudah, karena berlajar dari sejarah bahwa semuanya tidak akan terlepas dari “kerikil-kerikil tajam dan tebing-tebing tinggi” yang siap menghadang, dan pada waktu itu kebudayaan akan mengalami jatuh bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menciptakan (membangun) pranata-pranata kebudayaan dibutuhkan sebuah wadah yang akan mengakomodir ide dan system zang akan dibangun, oleh karena itu maka kami mencoba mentransformasikan pranata-pranata tersebut kedalam sebuah wadah yang kami sebut sebagai labolatorium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjelma menjadi laboraturium kemanusian dan kebudayaan tidaklah mudah, dibanding dengan terus berceloteh dan mengumbar kata sampai berbusa-busa. Penjelmaan tersebut membutuhkan sebuah transformasi kurikulum (disen dan managemen keilmuan) yang dapat merancang dan merencanakan infrastruktur dan suprastruktur yang sistematis. Dalam hal ini Transformasi budaya diharapkan menjadi sebuah pendekatan alternatif untuk megerakan roda kebudayan yang dapat menembus batas-batas (baik yang formil maupun yang terstruktur) yang sulit untuk di lalui dan di sikapi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;jadi sudah saatnya kita dapat mentranspormasikan nilai-nilai leluhur para pendahulu kita dengan mengembangkan akar buda yang kita miliki (sebagai karakter budaya) agar dapat berevolusi dan menjadi sebuah peradaban yang akan ikut mewarnai peradaban dunia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kebebasan, hati dan akal. itulah kata yang harus tetap diperjuangkan&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152766682014154595-8314031775886773131?l=matasyafiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasyafiq.blogspot.com/feeds/8314031775886773131/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1152766682014154595&amp;postID=8314031775886773131&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/8314031775886773131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/8314031775886773131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasyafiq.blogspot.com/2007/05/diri-budaya-dan-beradaban.html' title='Diri, Budaya dan Beradaban'/><author><name>Syafiq jawad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09914612557031593997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R1VlKf1BS4I/AAAAAAAAAAw/5mcTtd6MBZ8/S220/IMG_5616.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/RjrsS6i_Z5I/AAAAAAAAAAM/Z7bQLJ0F5rw/s72-c/untitled,..jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152766682014154595.post-2757339995291603476</id><published>2007-04-23T03:07:00.000-07:00</published><updated>2007-04-23T03:08:59.833-07:00</updated><title type='text'>Aku dan aku</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;ya, sampai saat ini aku baru menyadari bahwa aku memiliki beberapa unsur yang ada dalam diri dan ini menandakan bahwa manusia merupakan sesuatu yang unik. Manusia memiliki berbagai macam aspek yang menopang dan melengkapinya, aspek biologis sebagai unsur Material, unsur Psikologis dan spiritual sebagai Aspek Metafisis, dan itu membuktikan bahwa manusia mahluk multidimensi. Dengan jawaban diatas sedikitnya aku memahami siapa sebenarnya aku, aku yang harus berperan dan fleksibel dalam setiap situasi dan kondisi dimana aku berada. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali tersadar untuk kembali pada pertanyaan apakah aku ?, aku mencoba memikirkan kembali tentang apa yang menjadi keresahan dan kegusaran dalam menjalani kehidupan ini. Aku kembali mencari sebuah referensi atas apa yang menjadi pertanyaanku karna aku fikir ketika aku melakukan sesuatu hal aku harus mempertanggungjawabkannya termasuk dam menjawab sebuah pertanyaan aku harus bernai mempertanggungjawabkannya dengan sebuah reverensi yang dianggap kavabel, karna aku anggap aku belum cukup kavabel dalam hal ini, jadi aku harus mencari sebuah referensi sebagai rujukan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yang absolut dan yang profan, itu kata yang menarik untuk menjadi rujukan dalam pertanyaan ini. Aku dan aku, berarti secara tidak langsung aku mempunyai dia arti aku dengan ”a” kecil dan Aku dengan ”A” besar. Aku dengan ”A” besar berarti aku yang absolut dan aku dengan ”a” kecil berarti aku yang profan. Apa maksud dari Aku absolut dan aku yang profan ?&lt;br /&gt;Absolut berati sesuatu yang suci, tidak dapat disentuh, tidak bisa diotak-atik, dan tidak ada sesuatu yang dapat mengintervensi atas segala hal menyakkut dirinya singkatnya yng absolut adalah sebuah sistem yang ada pada sebuah perangkat. Adapun Profan adalah kebalikannya yakni, sesuatu yang dapat disentuh, tidak suci, dapat diganggu gugat, dapat diotak-atik dan dipoles singkatnya sebuah perangkat yang dapat diganti dan berudah tapi memiliki sebuah sistim yang tetap yakni Aku dengan ”A” besar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku yang absolut dengan ”A” besar berarti Aku yang suci dan abadi, taktersentuh oleh apapun dan ini yang membuat aku bergerak dan berkehendak. Sedangkan Aku yang Profan dengan ”a” kecil berarti aku yang dapat berubah seiring berubahnya ruang dan waktu karna ini merupakan instumen tambahan yang membantu Aku absolut untuk dapat beraktualisasi dan bereksistensi. Jadi dapat di simpulkan Aku Absolut berarti Aku yang memiliki uansur metafisis dan aku Profan berarti aku yang material. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita analisa dari awal bahwa manusia hidup didunia yang material (fisik), sehingga ketika manusia yang memiliki aspek metafisis harus diwadahi dengan sesuatu yang bersifat material dan itu adalah tubuh fisik karna tidak mungkin sesuatu yang metafisis dapat bersentuhan atau berhubungan langsung dengan unsur material dengan tanpa perantara atau media, jadi tubuh fisik manusia merupakan instumen yang memediasi hubungan manusia dengan dunia/alam. Jadi apa yang disebutkan palato sebagai dunia ide adalah diamana manusia berada sebagai jati dirinya yang absolut dan dunia material yang disebuatkan Decrates adalah aspek material dari segala sesuatu seperti halnya manusia yang memiliki tubuh fisik (jasad). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sampai disini aku bisa mengeri bahwa manusia (Aku) memiliki aspek lain yang menjadikan bergerak dan berkehendak, memiliki keinginan, cita-cita dan lain sebaginya. Tapi kalau di fikir ulang lantas apa yang membedakan Aku dengan yang lainnya, dengan oreng disekitarku, dengan hewan, tumbuhan dan benda-benda yang lainnya? Karna kalau aku yang hanya memiliki aspek metafisis semua juga memiliki unsur metafisis (kalau memakai konsep Palato tentang dunia ide).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Komunikasi dan Bahasa&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selain menciptakan sebuah tatanan kehidupan dalam bermasyarakat manusia dengan akal fikirannya mampu menciptakan sebuah sarana untuk berinteraksi dengan sesamanya. Bahasa, dengan bahasa manusia dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya. Menurut Jurgen Habermas salah seorang filosof jerman mengatakan bahwa yang memediasi antara manusia dan sesamanya adalah dengan bahasa/komunikasi dan komunikasi menjadi salah satu instumen penting dalam berinteraksi dan sosialisasi dengan sesamanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan Habermas salah seorang filosof muslim menjelaskan bahwa manusia adalah ”Hayawan an-Natiq” yakni Hewan yang berfikir dan berbicara, dan ia menegaskan bahwa akal fikiran yang kemudian menciptakan bahasa sebagai sarana interaksi manusia dengan sesamanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Memeng benar hewan juga berinteraksi dan berkomunikasi akan tetapi mereka tidak dapat menciptakan bahasa (simbol-simbol) sehingga mereka tidak dapat berkomunikasi secara efektif. Dan itu perbedaan yang cukup mendasar juga ketika manusia telah menciptakan bahasa yang bermacam dan beranekaragam, hewan dengan kodratnya tetap berkomunikasi sama seperti pertama mereka diciptakan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan sarana komunikasi tersebut (bahasa) manusia mampu berinteraksi dan beraktualisasi dengan baik. Beraktualisasi dan berinteraksi secara terorgnisir merupakan instrumen penting pula untuk membedakan manusia dengan hewan, tumbuhan dan yang lainnya, karena dengan organisasilah manusia dapat menciptakan sebauh tatanan kehidupan yang rapih, tujuan-tujuan, norma dan hukum-hukum. Hal tersebut diungkapkan salah seorang filosof sosialis yang bernama Karl Marx, dia menekankan dengan tegas bahwa manusia dengan akalnya mampu mengorganisir semua bentuk aktualisasi dan interaksi dengan sesamanya untuk mendapat semua yang menjadi tujuannya dan itu yang disebut Mark sebagai Produksi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Aktualisasi dan Afektifitas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bergerak/ bereaktualisasi merupakan salah satu dari sekian sifat dasariah manusia, dengan sifat dasariah tersebut manusia -dengan kemampuan berbahasanya- mampu menciptakan simbol-simbol (nama-nama) pada wujud atau eksistensi lain yang ada disekelilingnya. Dalam proses interaksinya dengan wujud lain manusia mampu memperoleh pengetahuan yang kemudian masuk dan menginternalisasi pada diri subjek untuk menuju kesempurnaan eksistensinya (benda-benda dapat dimanifestasikan dan orang-orang dapt dikenal). Pengetahuan tidakakan tercapai ketika subjek tidak membuka diri untuk berinteraksi dengan objeknya (alam atau wujud materil yang ada), maka yang akan terjadi adalah hanya sebuah pantulan-pantulan cermin alam/dunia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya dengan pengetahuan manusia dapat dibedakan dari hewan, tumbuhan dan benda-benda mati lainnya, manusia dan hewan memiliki kelebihan yang akhirnya dapat membedakan diri secara rill dengan tumbuh-tumbuhan atau benda-benda yang tidak bergerak lainnya, dialah afektivitas sebuah kegiatan merespon sesuatu yang ada di lingkungan atau disekelilingnya, dan dengan afektivitas pula hewan dan manusia “berada” secara aktif dalam dunia dan berpartisipasi dengan segala bentuk kejadian atau fenomena yang ada&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=1152766682014154595#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan atau kegiatan afektif harus dipahami sebagai segala pergerakan atau kegiatan batin yang ditarik oleh objek (menolak atau mendekatinya). Perbuatan afektif sedikit mirip dengan perbuatan mengenal karena mengenal juga merupakan sebuah tindakan vital/imanen, dalam hal ini subjek menjadi aktor utama dalam memberikan sebuah respon atau menerimanya. Perbuatan afektif juga dapat dikatakan berbuatan intensional dimana si subjek membuka dirinya dan dihubingkan dengan objek&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=1152766682014154595#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Afektifitas bias dipula dikatakan pokok pangkal dari setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia, baiak bemberi sebuah petanda, nama atau yang lainnya termasuk berbicara. Dengan adanya afektivitas manusia dapat menggerakan semua organ tubuh termasuk hatinya untuk melakukan sebuah tindakan, sebagai contoh ketika kita tertarik akan sesuatu hal maka dengan bekal pengetahuan dan afektivitas manusia akan mencoba membuat sebuah tindakan, ketika ketertarikan tersebut akan bembahayakan dirinya maka dia akan menjauh dan ketika ketertarikan itu membuat dirinya nyaman maka diakan akan terus mendekat dan terus berinteraksi dengannya. Demikian pula ketika kita berbicara, dengan afektivitas kita akan membuat sebuah gerakan (baik mimik wajah, tekanan dan gerakan tubuh lainnya) yang akan mengekspresikan pengetahuan atau keinginan kita, dan biasanya kita akan berbicara pada sesuatu (orang) yang membuat kita tertarik, cocok atau merasa nyaman. Dengan afektivitas kita didorong untuk melakukan sesuatu hal (respon), baik mengikatkan diri dari sesuatu, melepaskan diri, mendekatkan diri, atau melakukan sebuah tindakan aktif seperti menyerang,  membela diri, bertempur dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Adapun kondisi-kondisi Afektivitas manusia ketika dia mengalami suasana afektif adalah; Disposisi Afektif Dasariah. Dari sedut pandang ini afektifitas dipandang dari dua segi/sudut dasariah atau berputar pada dua kutub bertentangan. Berawal dari sebuah respon terhadap sesuatu maka subjek (manusia) akan mencoba mendekati sesuatu, ketika hal tersebut dianggap baik olehnya dan dia akan menjauhinya ketia itu dianggap jelek, jahat atau sesuatu yang akan merintanginya. Secara sepintas kedua afektivitas tersebut terkesan sebagi afektivitas dasar, padahal kalau kita perhatikan, katakanlah kegiatan mendekati, menyukai adadah mencintai dan menjauhi sesuatu, merintangi adalah membenci, maka akan menjadi jelas bahwa cinta-lah sebagai kegiatan afektif dasariah karena ketika sesuatu dipandang akan menjauhkan atau merintangi maka sebenarnya hal tersebut adalah sebuah penghalang bagi sesuatu yang kita cintai (menggapai, mendekati atau memilikinya). Jadi pada hakikatnya cita merupakan berada atau asal mula dari seluruh hidup/kegiatan afektif, sekurang-kurangnya cinta akan diri sendiri.&lt;br /&gt;Sikap-sikap. Berangkat dari hal pertama diatas (cinta dan benci) akan melahirkan sebuah Anggapan atau kecenderungan dan Maksud  dari si subjek dalam berhubungan dengan objeknya. Ketika subjek menganggap objeknya jahat (berdasar karna jahat bukan sifat dasar afektif) maka akan melahirkan satu konsekuensi yakni, kebencian yang merakibat menjauhi atau malah melawan, menyarang atau menghilangkannya. Berbeda halnya dengan cinta sebagi sifat dasar afektif, dia akan menimbulkan 2 konsekuensi (sikap) yakni mendekati, memiliki dan interaksi kemudian ketika objek tersebut dianggap jahat atau buruk dia akan tetap berusaha untuk mendekati atau berinteraksi karena nilai, manfaat, keuntungan (yang ada pada objek) baik bagi untuk umum atau pribadi. Dalam kasus membenci, menjauhi atau menghilangkan berlaku sikap cinta diri sendiri (cinta utilitaris) dan pada kasus yang yang kedua yakni mendekati karena ada sebab –nilai, manfaat serta lainnya- disebut cinta kebaikan hati, tanpa pamrih (amour de bienveillance, amour desintresse, amour oblatife). Secara singkat dapat dikatakan cinta Utilitaris bersifat bermanfaat atau mementingkan diri sendiri/egois sedangkan cinta tanpa pamrih si objek akan tetap melakukan yang terbaik demi keutuhan nilai itu sendiri atau manfaat khalayak (apresiasi).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Penetuan sikap afektif subjek oleh objek. Subjek dalam merespon objeknya menampilkan sebuah suasana yang disebut perasaan, perasaan  merupakan disposisi afektif yang stabil yang tidak mengganggu keseimbangan psikologis subjek. Yang menjadi permasalahan disini adalah emosi, emosi merupakan kegiatan afektif yang mendadak dan kuat, yang disertai dengan gangguan organik (penyulut) dan dapat mengubah kelakuan subjek secara drastis. Emosi dapat menjadi sumber kekuatan, ketegasan, inisiatif kreativitas pada diri subjek ketika subjek dapat menguasai perasaannya, dilain pihak emosi juga dapat menjadi sumber bencana, memalukan dan merugikan ketika perasaan tersebut tidak dapat dikendalikan yang akhirnya membabi buta hal ini dapat diantisipasi dengan pengetahuan atau penguasaan diri (akal sehat).&lt;br /&gt;Penguasaan subjek terhadap objek. Masih dalam kerangka cinta dan benci (beserta rekan-rekannya atau sesuatu yang mendekati), subjek dalam hal merepons kedua hal tersebut dapat mengakibatkan kemungkinan-kemungkinan sikap afektif. Dalam hal mencintai atau menginginkan sesuatu hal maka dalam jangka waktu tertentu subjek akan mengalami sebuah usaha (waktu), dalam usaha tersebut  subjek akan mengalami sebuah harapan-harapan akan kesenangan dan kegembiraan, keputusasaan dan sebagainya. Demikian juga dengan kebenciaan, subjek akan mengalami keresahan, kecurigaan, ketakutan, kemarahan bahkan semangat yang berkobar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hasrat-hasrat jiwa demikianlah para filosof terdahulu mengatakan keadaan-keadaan afektif yang telah dipaparkan diatas. St Aquinas dalam buku Summa teologica bagian kedua, Decrates dalam buku Urayan tentang nafsu-nafsu, Spinoza dalam buku Etika. Para filosof yang disebutkan diatas sangat konsen membahas mengenai kegiatan afektif, secara garis besar nafsu dapat di kelompikan menjadi 2 ; pertama, nafsu yang cenderung mengikat pada hal-hal yang baik (nafsu hasrat), kedua, nafsu yang mempersiapkan  untuk bertempur atas apa yang melawannya. Alferd Adler menyebut nafsu bertempur ini sebagai “Dorongan untuk berkuasa” sedangkan nafsu yang cenderung mengikat pada kebaikan disebut oleh Etienne de Greef sebagai “Naluri-naluri Simpati”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=1152766682014154595#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ya, aku sangat beruntung menjadi manusia yang memiliki aka fikiran serta kehendak bebas. Aku yakin dengan kehendak tersebut tidak ada yang bisa mencegah atau menghalanginya apalagi membunuhnya karna kehendak bebas manusia tidak hanya dapat dilakukan dalah bentuk aktualsisasi saja kehendak tersebut dapat dilakukan dalam fikiran. Tak ada yang dapat menghalanginya sekalipun itu Tuhan. Aku dapat melakukan sesuatu sesuai dengan kehendakku -terlepas dari norma dan hukum yang ada- semuanya dapt dilakukan. Bahkan dalam memilih salah satu kepercayaanpun manusia tidak dapat dipaksa dan di kekang, karna kenapa karna manusia mahluk yang merdeka, bebas tanpa batasan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=1152766682014154595#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Leahi, Louis. Siapakan Manusia, Kanisius Jakarta 2001, hal 107&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=1152766682014154595#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Ibid. hal 112&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=1152766682014154595#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Leahi, Louis. Siapakan Manusia, Kanisius Jakarta 2001, hal 111&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kebebasan, hati dan akal. itulah kata yang harus tetap diperjuangkan&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152766682014154595-2757339995291603476?l=matasyafiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasyafiq.blogspot.com/feeds/2757339995291603476/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1152766682014154595&amp;postID=2757339995291603476&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/2757339995291603476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/2757339995291603476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasyafiq.blogspot.com/2007/04/aku-dan-aku.html' title='Aku dan aku'/><author><name>Syafiq jawad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09914612557031593997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R1VlKf1BS4I/AAAAAAAAAAw/5mcTtd6MBZ8/S220/IMG_5616.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152766682014154595.post-3627775020511894812</id><published>2007-04-23T03:03:00.000-07:00</published><updated>2007-04-23T03:05:40.982-07:00</updated><title type='text'>Siapakah Aku</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ya siapakan aku ? pertanyaan ini terus membayangi setiap detik urat saraf yang ada didalam otakku. Siapakah aku ? aku tidak tau siapa aku sebenarnya, namaku adalah syafiq jawad, itulah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku ketika aku lahir kedunia. ketika namaku Syafiq, lantas siapakah aku seblum aku diberi nama oleh orang tuaku ? manusia, ya manusia tapi siapa itu manusia ? aku merasa aku gila, apakah orang lain juga menanyakan hal ini ? jangan-jangan aku memang orang aneh yang bertanya tentang diri sendiri, tapi aku piker aku akan menjadi lebih aneh lagi kalau aku tidak mencari tau siapa aku sebenarnya dan bagaimana aku bias sayang terhadap diri sendiri kalau aku tidak tau siapa diriku. Aku ingat ada pepatah mengatakan “tak Kenal Maka Tak Sayang” dan itu yang harus aku lakukan, sebelum aku dapat menyayangi diriku sendiri maka aku harus mencari tahu siapa aku ini sebenarnya.  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku akan coba menelusuri arti dan siapa sebenarnya aku, walaupun aku sudah mencoba mendefinisikannya pada waktu yang telah lalu, tapi aku measa kurang yakin dengan definisi tersebut, definisi itu terlalu sederhana dan mungkin semua orang juga mengetahuinya (aku adalah anak dari kedua orang tuaku, aku adalah mahluk yang diciptakan Tuhan dan aku sebagai anggota masyarakat dalam lingkuanganku). Untuk mengukuhkan kembali apa yang aku yakini maka aku akan mencoba menguraikanya kembali dengan pengetahuan yang seadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aku Biologis dan Aku Material&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aku memahi aku yang biolologis (material), maka secara otomatis aku akan membutuhkan sesuatu yang bersifat material (sandang, pangan dan papan). Aspek material membutuhkan sesuatu yang bersifat material pula, semua harus senergis dan teratur, maka disini dibutuhkan sebuah pula atau sebuah ritme. Pola atau ritme ini akan melahirkan cara dan gaya dalam bersikap/tingkahlaku.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi konsekuensi logis bagi manusia yang mempunyai aspek material pasti membutuhkan aspek material pula. Sedikit contoh, manusia dalam mempertahankan hidupnya (keberlangsungan hidup) manusia membutuhkan minum, makan, tempat perlindungan dan lain sebagainya, sudah menjadi keniscayaan dalam mencukupi kebutuhan hidupnya manusia harus menciptakan alat produksi (mesin produksi) yang akan memfasilitasi dirinya untuk bertahan dan melanjutkan kehidupannya&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=1152766682014154595#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam formulasi materialisme dialektis, Engels mengatakan bahwa "tangan bukan hanya sebuah organ buruh (alat material) tapi ia juga merupakan produk dari buruh (menciptakan sebuah produk material). "Artinya sejarah manusia berjalan membentuk perubahan atau berevolusi, dan manusia mulai berkarya sehingga merubah dirinya sendiri. Fisik dan pemikiran.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan alat produksi (mesin produksi) manusia dapat menciptakan berbagai macam produk sebagai fasilitas manusia dalam bertahan hidup. Makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal (perlindungan) dan lain sebaginya. Dengan mesin produksi manusia dapat berkreasi dalam menciptakan sebuah produksi, seperti yang kita lihat sekarang, kita ambil contoh sandang, makanan misalnya, banyak sekali ragam dan jenis makanan yang ada dihadapan kita, sea food, fast food serta food-food lainnya yang membuat libido makanan kita naik dan berselera untuk melahapnya. Dalam hal minuman bisa kita lihat berbagi jenis minuman, ada miniman mineral, vitamin, alkohol dan lain sebaginya, dalam hal sandang manusia dapat menciptakan alat dan mesin-mesin produksi, kalaulah dulu kita tahu pakaian dibuat memakai tangan atau alat tenun maka sekarang bisa kita lihat bagaimana beribu-ribu pakaian diproduksi dengan mesin yang mungkin dapat menghasilkan produk lebih banyak dari mesin tenun atau dengan tangan saja dan bahkan kualitasnya bisa lebih baik dari produk tenun, kalu dulu dalam waktu sehari dengan mesin tenun manusia dapat menghasilkan produksi empat atau lima produk maka sekarang dengan mesin manusia dapat menghasilkan beribu-ribu bahkan ratusan ribu dalam satu hari. Demikian juga dalam hal papan (rumah, tempat tinggal dan tempat perlindungan), dengan mesin produksi yang diciptakan, manusia dapat menghasilkan berbagai macam produk dan jenis, kalaulah dulu kita hanya bisa tidur (tinggal) di rumah jerami dan kayu (bilik-bilik) maka sekarang kita bisa tinggal di dalam gedung, apartemen, hotel dan lain sebaginya dengan kasur empuk dan selimut yang tebal, semua itu manusia ciptakan untuk melindungi diri dari berbagaimacam bahaya yang akan membahayakan dirinya. Kalaulah dulu rumah diciptakan untuk melindungi manusia dari ancaman hewan buas atau cuaca (panas dan dingin) maka sekarang rumah diciptakan untuk kenyamanan dan ketenangan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Manusia, selain dapat menciptakan berbagi macam produksi manusia juga dapat berkreasi dengannya, bisa kita lihat banyak berbagai macam kemasan untuk mengkemas hasil-hasil produksi, ada yang pake plastik, botol atau kap. Dengan kecanggihan teknologi sebagai hasil dari kreasi manusia dia dapat menciptakan semua hal yang dapt menunjang keberlangsungan hidupnya di dunia. Selain bertahan untuk keberlangsungan hidupnya, semuanya manusia ciptakan dalam rangka berkreasi dan mengaktualisasikan diri (bereksistensi). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan sandang pangan dan papan tidak lagi menjadi sebuah kebutuhan untuk bertahan hidup, pada zaman modern sekarang ini, kebutuhan dasar (pokok) untuk menunjang kebutuhan dan bertahan telah beralih fungsi menjadi life stile (gaya hidup). Bisa kita lihat sekarang pada generasi muda yang mengaku dirinya modern dalam berlaga dan bergaya atau akrab kita sebut generasi MTV yang memakai berbagai macam aksesoris baik pakaian bahkan pada tubuhnya, tidak hanya generasi anak muda atau ABG saja gejala tersebut sudah menjamur dikalangan orang tua atau menjelang dewasa mungkin pengkemasan saja yang sedikit berbeda. Gejala life stele atau budaya hedon tersebut sudah menjamur dan menginternalisasi dalam tubuh masyarakat kita akan tetapi mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka dimanfaatkan oleh kaum kapitalis yang ingin menggaruk materi dan kekuasaan. Hal ini bukan berarti bahwa life stel yang modis abis atau budaya hedon adalah negatif akan tetapi kita harus sadar dengan esensi dari instrumen kebutuhan tersebut, karena kalu kita tidak mengerti dan memahami dengan baik esensi tersebut maka yang akan terjadi adalah gejala ekor-mengekor seperti bebek yang hanya bisa ikut-ikutan dengan stile orang lain yang sebenarnya bertolak belakang dengan budaya, norma dan kurang baik atau kurang menguntungkan bagi kita, yang pasti jangan sampai terjadi kita merasa kurang gaul atau kurang modis ketika kita tidak mengikuti budaya yang ada (budaya MTV, dugem, atau anak-anak gaul lainnya).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup dan mencukupi kebutuhan material membutuhkan sebuah pola (pola hidup). Seperti yang kita tahu sekarang, banyak sekali orang yang menganjurkan atau membuat sebuah pola bagaimana menjalani kehidupan, contohnya pola hidup sehat, dan pada jaman sekarang ini hal tersebut sudah menjadi sarana market atau lahan berbisnis yang marketebel baik dari segi sandang, pangan dan papan.  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sandang merupakan unsur penting pertama dari tiga unsur pokok kebutuhan manusia, sandang tidak lagi menjadi kebutuhan pokok tapi dijaman modern ini dandang sudah menduduki posisi yang urgen dan sangat mendasar. Mungkin pada jaman dulu pada abad-abad sebelumnya sandang (pakaian dan mode) tidak begitu urgen dalam kehidupan. Manusia modern menyadari bahwa dalam kehidupan bermasyarakat stile menjadi sesuatu yang sangat penting, penampilan luar menjadi sesuatu yang bisa dibenggakan dan tonjolkan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Mungkin itulah salah satu contoh ungkapan manusia modern yang begitu mementingkan style. Stile bagi manusia modern menjadi susuatu yang sangat penting dalam menunjang kehidupan, kesan pertama menjadi perhitungan dan pertimbangan penentuan bagi langkah selanjutnya, maka dari itu style menjadi sangat penting. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang berlomba-lomba dan rela mengorbankan banyak meteri untuk hal demikian, dari mulai mode, sampai aksesoris-aksesoris yang membalut tubuh. Pusat kebugaran dan kecantikan, butik-butik dan distro pakaian banyak berjamuran di dunia modern semua tidak lain dan tidak hanya untuk kepentingan membalut tubuh semata, tapi lebi kearah mode dan life stile, tak jarang pula manusia menciptakan standarisasi-standari. Contohnya, standarisasi kecantika dan ketampanan (sosok ideal ) seseorang, padahal semua itu diciptakan atas dasar kepentingan market maka terciptalah standar-standar yang secara tidak sadar semua orang menyepakatinya. Kalaulah kita ditanya, sosok wanita cantik atau laki-laki ganteng itu seperti apa sih ? maka sepotan kita akan menjawab bahwa wanita cantik itu bertubuh langsing, tinggi, rambutnya panjang, kulitnya putih dan perawakannya sintal serta padat berisi, kalau laki-laki tubuhnya tinggi, atletis (tidak gemuk) berotot, putih dan lain sebaginya. Ketika hal tersebut sudah menjadi standarisasi maka wanita laki-laki yang tidak termasuk kriteria tersebut – katakanlah gemuk atau gendut, kurus, pendek, hidung pesek, hitam – tidak dikatakan cantik atau ganteng. Kalau seperti itu kenyataannya maka bersedihlah orang-orang yang tidak mempunyai uang untuk membayar semua itu, dari mulai membeli alat-alat kecantikan, kebugaran karena seperti yang kita tahu alat-alat seperti itu cukup tinggi harganya sehingga hanya dapat dimiliki oleh orang-orang yang berduit saja, dengan kata lain ”kecantikan dan kegantengan hanya dimiliki oleh orang-orang berduit saja”. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kubutuhan manusia terhadap unsur materi ternyata tidak hanya berbentuk sandang pangan atau papan semata, manusia juga membutuhkan sesuatu yang dapat membuat dirinya nyaman (kesehatan dan vitalitas tubuh), maka berdasr pada kebutuhan tersebut manusia menciptakan alat (instrumen) untuk menunjang hal tersebut, misalnya salon kecantikan (pedycure, madicure), pijat refleksi, vitnes dan pusat-pusat kebugaran. Dalam hal penampilan saja manusia banyak menciptakan berbagai macam produk perawatan tubuh dari merek A sampai merek Z, baik body skin, body cream, Gell, Sun Dlok dan dan berbagai macam polesan lainnya sampai-sampai manusia menciptakan sebuah operasi untuk memperbaiki anggota tubuh yang katanya kurang Oke. Pemasangan kawat (behel) pada gigi, operasi wajah biar oval, operasi hidung biar mancung dan berbagai macam operasi tubuh yang lainnya, padahal kalau kita menyadari fungsi dasar dari alat tersebut mungkin oprasi-operasi tersebut tidak akan terjadi tapi ini bagi orang-orang yang kurang memprioritaskan penampilan tapi bagi orang-orang yang sangat memprioritaskannya semua akan dia lakukan untuk menunjang penampilannya biar menarik dan Oke dihadapan publik. Semua itu manusia ciptakan karena manusia sadar akan unsur biologis (tubuh fisik) pada dirinya, Rambut, mata, halis, hidung, mulut (wajah), tangan badan, kaki dan lain sebagainya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Demikianjuga dalam hal pangan (konsumsi makanan) orang banyak menciptakan sebuh menu yang dapat menunjang vitalitas tubuh, semua diperhatikan dan diteliti secara mendetil, dari hal tersebut maka lahir yang dinamakan 4 sehat 5 sempurna. Selain itu, ditengah jaman yang semakin moderen dan teknologi yang mutakhir maka makanan banyak yang dicampur dengan zat-zat tambahan seperti zat pewarna, zat pengawet atau cara pengolahan yang mekanistis, dan hal tersebut yang pada awalnya ingin menunjang pola konsumsi yang sehat mengkibatkan sebuah truble pada pola itu sendiri. Maka dari itu banyak para ahli yang bergerak dibidang tersebut menganjurkan untuk kembali kepada alam (back to nature), pengolahan secara alamiah, tidak memakai zat kimia dan lain sebagainya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalam hal Papan (tempat tinggal, fasilitas dan lain sebaginya) banyak yang melahirkan pola yang pada awal bertujuan untuk menunjang kesejahteraan umat manusia tapi pada kenyatanya semua hanya menjadi sebuah gangguan yang bertentangan dengan pola dan ritme yang telah ada (terlepas dari kepentingan bisnis). Rumah kaca, sarana transportasi dan pabrik-pabrik kimia, yang pada awalnya bertujuan untuk menunjang kesejahteraan dan kenyamanan dalam hidup juatru menjadi sebuah kendala dan penyakit bagi manusia itu sendiri. Kita bisa lihat efek dari rumah kaca, polusi yang diakibatkan asap dari kendaraan bermotor dan pabrik-pabrik yang menyisakan limbah dimana-mana, semua menjadi halangan dan kendala bagi manusia itu sendiri (disamping menguntungakan). Efek dari rumah kaca dan polusi yang semakin tak terkendali mengakibatkan lapisan ozon yang melindungi bumi menjadi menipis bahkan ada kemungkinan bolong. Selain mengkibatkan cuaca yang semakin panas hal tersebut mengakibatkan berbagai penyakit yang akan diderita oleh manusia itu sendiri (paru-paru, radang, sesak dan kanker).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Penyakit paru-paru, kangker, usus, kangker dan lain sebaginya. Semua merupakan sebuah efek yang disebuat moderenitas yang berdalih pensejahteraan dan penujang kehidupan manusia. Sungguh sangat ironis, paradok dan sangat membingungkan. Tapi itulah yang sekarang terjadi pada dunia sekarang ini, zaman yang katanya moderen, maju sekaligus angkuh. Kenapa angkuh, karena manusa sekarang sudah lupa akan tugas, kodrat dan jati dirinya untuk hidup didunia, manusia lupa akan esensi dari kebutuhan, esensi dari materi dan esesnsi akan hidup. Manusia lupa bahwa alam adalah sahabatnya (manusia hidup di dan dengan alam) maka jangan salahkan alam ketika alam bergejolak dan memuntahkan segala keresahannya dengan bencana-bencana yang ada karena semuanya merupakan sebuah konsekuensi logis yang harus diterima akibat tangan-tangan jahil manusia (kapitalis) yang tidak bertanggung jawab, yang hanya mementingkan kepentingan (nafsu) pribadi dan golongannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Manusia merasa menjadi pengusa (raja) atas alam, yang bisa memperlakukan dan mengeksploitasi alam dengan seenak jidatnya, tanpa memperhitungkan konsekwensi jangka panjang yang akan diterima oleh generasi setelahnya,. Maka bohong ketika mereka sayang kepada anak cucunya tapi hutan terus digunduli (ilegaloging penebangan kayu secara liar) dan laut terus eksploitasi secara radikal, lantas apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita nanti, ketika alam sudah rusak, air dan udara sudah kotor,  hutan sudah gundul dan tanah sudah gersang !&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ya, aku mulai memahami bagimana segala sesuatu harus mempunyai pola, pola yang proporsional. Pola bagaikan sebuah ritme atau irama dalam sebuah lagu, kapan harus minor dankapan harus mayor, kapan harus menekan kunci A atau konci-kunci selanjutnya maka dapat dipastikan lagu yang mengalun akan terdengar sangat indah, baik itu lagu Reggae, Rock, Pop, Hip-Hop, Dangdut, alternatife dan lain sebaginya. Demikian pula hidup, kita harus tahu kapan harus tidur, bangun, berolahraga, makan, beraktifitas dan lain sebaginya. Ketika kita sudah memahami kebutuhan dasar (esensial) yang menjadi pola dan ritme hidup maka kita bisa menjamin vitalitas tubuh material kita. Karna sesuatu yang material harus ditunjang dengan hal yang bersifat material pula. Tapi janganlah lupa, dalam menunjang kebutuhan material tersebut harus tetap memperhatikan norma dan etika kita terhadap lingkungan atau alam yang nantinya tidak mengakibatkan bencana dan kerusan baik untuk diri kita atau untuk alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aku Psikologis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aku fikir tidak hanya aspek material saja kita harus mempunyai pola dan ritme, dalam aspek psikologis juga demikian, kita harus mempunyai ritme dan irama tersendiri.&lt;br /&gt;Aspek biologis (Materil) dan aspek psikologis (kejiwaan) keduanya saling berkaitan, berjalan beriringan dan tentu keduanya tidak dapat dipisahkan. Memang berbeda, tapi dari sebuah perbedaan akan melahirkan sebuah sinergi yang saling mengisi satu samalin. Seperti kata pepatah ”didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat” begitu juga sebaliknya ”didalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang kuat”.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Walaupun pepatah tersebut terluahat paradok, tapi dapat dipastikan anatara aspek biologis dan kejiwaan keduanya saling melengkapi dan saling mengisi. Memang tidak selamanya dalam tubuh yang sehat itu terdapat sebuah kekuatan jiwa (jiwa yang sehat), begitu juga sebaliknya didalam jiwa yang sehat belum tentu terdapat tubuh yang kuat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku fikir kembali pernyataan dari kedua hal tersebut semua tidak dapat dipastikan secara pasti semua mungkin dan mungkin karna aku meyakini dalam dunia ini tidak ada sesuatu yang pasti (pasti bukan berarti keniscayaan) semua serba mungkin dan mungkin, karena kenapa ? karena manusia merupakan sebuah mahluk yang unik, mahluk yang selalu ada dalam kerentanan (kemungkinan) dan semua dapat terjadi pada manusia. Ada kalanya seseorang yang sehat secara jasmani (tidak berarti mempunyai tubuh yang atletis dan otot yang kekar) terkadang mengalami gangguan kejiwaan dalam dirinya, semuanya dapat dibuktikan secara ilmiah dan itu hanya dapat dilakukan oleh mereka yang mendalami ilmu kejiwaan (psikologi). Demikian pula sebaiknya, banyak juga orang yang secara kejiwaan relatif stabil (sehat) tapi dalam tubuh mengalami gangguan atau sebuah penyakit yang diderita.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali contoh yang bisa di buktikan dari kedua kasus tersebut, misalnya ditengah perkembangan jaman yang begitu modern yang segalanya bertitik terkan pada hal yang berbau materi atau fisik banyak orang yang berani mengeluarkan tidak sedikit dari koceknya untuk mempunyai tubuh atletis dan otot yang kekar atau dengan kata lain tubuh yang perfik, seseorang yang rajin senam,  mengikuti latihan kebugaran dan lain sebagainya kemudian ditambah dengan berbagai macam polesan dari mulai pakaian dengan berbagai macam aksesoris dan polesan. Ternyata mereka menemukan sesutu yang kurang dalam dirinya, misalnya sebuah ketenangan dan kebahagiaan dari jiwa, mereka terlihat gusar dan kosong dan akhirnya mengakibatkan gangguan kejiwaan (kelainan) yang akhirnya itu di klem sebagi penyakit kejiwaan. Bahkan banyak yang secara materil sudak tercukupi tapi mereka dihantui dengan perasaan cemas dan ketakutan bahkan ada dalam sebuah kasus mereka bunuh diri.&lt;br /&gt;Hal ini menunjukan bahwa tidak selamanya dalam tubuh yang sehat itu terdapat jiwa yang sehap pula, demikin sebaliknya. Jadi yang harus kita lakukan sekarang adalah bersikap proporsional dan tidak melakukan titik tekan pada salah satu bagian saja, kita harus membuatnya berjalan beriringan sinergis dan saling mengisi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalam hal mentenence aspek psikologis semua harus di seting berdasarkan porsi dan waktu yang tepat, kapan kita harus bermanja-manjaan, kapan harus bersikap hormat, kapat harus tertawa gembira dan kapan kita harus sedih, semua ada waktunya. Terkadang aku sendiri belum bisa melakukannya dan bersikap secara proporsional. Terkadang ditengah keramaian ketika aku berjalan dengan kedua orng tuaku, aku ingin sekali bermanja-manjaan tapi seharusnya aku bersikap hormat dan bersikap baik dihadapan semua orang. Dan terkadang juga ketika suasana hati sedang sedih dan gusang tiba-tiba salah seorang teman mendapatkan sebuah kebahagian atau sedang serius menghadapi sebuah persoalan, terkadang aku susah bersikap karna ini pilihan antara mengikuti suasana hati dan bersikap seperti yang diharapkan teman kita, semua sulit untuk dikendalikan dan lilakukan sesuai konsep. Meskipun aku tau apa yang harus aku lakukan tapi itu benar-benar sulit, dihadapkan pada 2 pilihan. Kalau aku mengikuti suasana hati berarti aku tidak solider dan tidak mampu membahigiakan seorang teman, tapi ketika aku bersikap seperti yang diharapkan maka aku adalah orang membodohi diri sendiri. Tapi yang pasti adalah sebuah pilihan yang bijak ketika kita sanggup membahagiakan orang yang berada didekat kita walaupun itu harus mengobankan diri sendiri.&lt;br /&gt; Demikianlah kita harus mengatur sebuah pola dan irama kehidupan, semua harus di set dan disetel sesuai dengan porsinya agar lagu yang didendangkan dalam kehidupan ini mengalun dengan indah, tak terdengar sebuah nada yang mengganggu telinga. Tapi tak selamanya nada fals itu tidak indah, ada kalanya nada fals dalam kehidupan itu perlu karna manusia tidak selamanya harus melantunkan nada seperti yang telah ditetapkan. Nada fals itu indah tapi tergantuk individu yang menangkapnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aku Spiritul&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Nada-nada indah dalam kehidupan dilantuntan, tapi tidak terbatas hanya dalam aspek biologis dan psikologis saja nada tersebut dalap dilantunkan juga oleh nada yang dimiliki oleh aspek spiritual. Jangan kira aspek spiritual tidak mempunyai seni dalam perjalanannya, nada yang dimainkan aspek spiritual justru bisa lebih pareatif dari nada-nada sebelumnya.&lt;br /&gt;Seni dalam ritme sipiritual harus dipahami dengan sebenar-benarnya karna ini menyangkut aspek rohani dan kepercayaan akan sesuatu. Aku tidak akan jauh membahas ini karna aspek ini lebih tepat dibahas pada tataran theologis, tapi tidak ada salahnya kalau kita menyinggung sedikit mengenai ritme dan nada spiritul ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ritme dalam ragu yang didendangkan aspek spiritual ini berdasar pada pemahaman kita tentang kepercayaan itu sendiri. Sebutlah itu Tuhan. Tuhan yang kita yakini dan kita sangat percaya pada segenap kekuasaannya memaksa kita harus tunduk dan patuh pada setip perintah dan larangannya, demikianlah orang banyak memahaminya. Tapi kalau aku fikir kembali seseorang berhak untuk tidak memahami demikian karena semua berdasar pada persepsi masing-masing individu, karna persefsi inilah seseorang akan berjalan dan memainkan ritmenya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah Tuhan dibayangkan sebagai sesuatu yang sangat kuat dan menyeramkan kemudian kita hanya sebagi mahluk yang rendah dan sangat lemah maka yang akan terjadi adah sebuah hirarki dan ritme yang dimainkanpun akan terasa kaku dan rigid, tidak ada kebebasan dan keharmonisan yang sinergis didalamnya. Tapi kalu kita mencoba memahami bahwa Tuhan kita adalah fleksibel (dalam artian peran) maka kita akan menjalankan ritme dengan nada yang pareatif, terkadang kita akan bermain dengan nada tegas (tinggi) atau dengan nada yang sangat rendah sekalipun.  Ketika kita memahami demikian maka Tuhan akan menjadi sesuatu yang kita persepsikan, Dia akan menjadi teman kita dalam berdialog dan Curhat, Dia akan menjadi sosok orang tua yang kita bisa bermanja-manjaan dengannya, Dia juga akan bisa menjadi seorang guru atau konsultan yang kita dapat mengadukan sesuatu dan sharing tentang sebuah permasalahn, dan yang pasti Dia juga bisa menjadi Tuhan yang sebenarnya yang akan kita sembah sebagaimana seorang hamba yang menyembah Rajanya (tuannya).&lt;br /&gt;Sungguh akan berpareasi ketika kita menganggap Tuhan sebagai sesuatu yang fleksibel, tidak kaku dan rigid apalagi sebagai sosok yang sangat menakutkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ya, mungkin demikin pola, ritme dan irama dalam setiap aspek dalam diri manusia, semua harus berjalan beriringan sesuai dengan porsi dan kebutuhan. Aspek biologis, psikologis dan spiritual, semua harus dijaga supaya seimbang, tidak ada ketimpangan didalamnya karna suanya merupakan sebuah kesatuan yaitu manusia, diri kita dan Aku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ya, itulah aku, berarti dengan ini pertanyaan siapa aku sedikit sudah terjawab, yakni aku yang mempunyai aspek biologis (materil), spiritual dan psikologis, kemudian aku yang mempunyai berbagaimacam peran yang harus aku mainkan dalam menjalani opera atau sandiwara kehidupan didunia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ada juga udara segar kebebasan yang bisa aku hirup dari sesaknya udara kebingungan, tapi masih ada pertanyaan yang belum bisa aku jawab yakni apakah aku ini ?. tapi sepertinya aku belum bisa menjawabnya malam ini, karna selain waktu hampir menjelang pagi dengan terdengarnya suara kokokan ayam yang memecah heningnya malam ini, aku juga masih belum mendapat gambaran jawaban atas pertanyaan tersebut. Akhirnya aku memutuskan untuk menghentikan aktifitas berfikirku dengan beristirahat karna pada esok hari aku harus bersiap untuk menjalankan aktifitas serta rutinitas seperti biasanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www2.blogger.com/post-create.g?blogID=1152766682014154595#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Leahi, Louis. Siapakan Manusia, Kanisius Jakarta 2001, hal, 62.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kebebasan, hati dan akal. itulah kata yang harus tetap diperjuangkan&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152766682014154595-3627775020511894812?l=matasyafiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasyafiq.blogspot.com/feeds/3627775020511894812/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1152766682014154595&amp;postID=3627775020511894812&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/3627775020511894812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/3627775020511894812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasyafiq.blogspot.com/2007/04/siapakah-aku.html' title='Siapakah Aku'/><author><name>Syafiq jawad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09914612557031593997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R1VlKf1BS4I/AAAAAAAAAAw/5mcTtd6MBZ8/S220/IMG_5616.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152766682014154595.post-4236945931819605255</id><published>2007-04-23T02:48:00.001-07:00</published><updated>2007-04-23T02:52:01.197-07:00</updated><title type='text'>Aku Berfikir</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Apakah kamu pernah merasakan kegelisahan ? ya, semua orang pasti pernah merasakan kegelisahan, kegelisahan tentang apapun, termasuk gelisah akan dirinya sendiri, kegelisahan akan eksistensi dan tentang diri. Diri, apakah itu diri, orang lebih menganal diri adalah aku, ya Aku, kegelisahan akan diri dan Aku. Sangat sederhana, kata tersebut sering meluncur ketika seseorang mengungkapkan tentang dirinya, tapi siapakah aku ? belum tentu semua orang belum mengetahuinya, termasuk saya. Terkadang saya suka takut ketika menyebutkan kata ”Aku”, kata tersebut terus mengiang dalam gendang telinga, Sampai sekarang kata itu sering melintas dan mengisi urat saraf dalam otak kesadaranku. ”Aku” ya, kata yang membuat malam terasa panjang, kata yang membuatku sering teridiam untuk memikirkannya, dan kata yang membuat aku tersentak menembus alam kesadaran. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hampir saja kata ini membuat aku setengah gila sampai-sampai aku tak mau mendengar kata tersebut bahkan aku pun merasa takut kata ini meluncur dari mulutku sendiri. Gara-gara kata ini aku sering dianggap aneh oleh orang-orang disekitarku bahkan aku dianggap sedikit kurang waras karena terus menerus menanyakan kata ini. Siapakah Aku dan apakah Aku ?. Aku bertanya bukan karna aku benar-benar tidak mengetahui jawabannya anak tetapi aku menanyakan kata tersebut karena sampai saat ini belum ada jawaban yang mendalam dan mendasar sehingga membuat aku puas maka aku memutuskan untuk bertanya pada diri sendiri, tentunya dengant metode dan analisa yang aku punya meskipun sangat sederhana. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pada malam hari ketika suasana mulai hening dan sunyi, aku mencoba beranjak dari tempat tidurku, satu hari dua hari dan begitu seterusnya sampai sampai akupun merasa aneh dengan kelakuanku itu, yang mencoba menjawab pertanyaan yang semestinya tidak ditanyakan, bahkan orang bodoh sekalipun tidak pernah menanyakannya. Tapi aku kembali berfikir dan berapologi, yang benar saja, ya iyalah orang bodoh tidak akan pernah menanyakan hal ini, karna mereka tidak tau, mungkin intrlektulitas mereka belum sampai pada pertanyaan tersebut, pertanyaan yang membutuhkan sebuah analisa yang sangat dan akut. Berdasar pada hal tersebut aku mencoba bertanya dan menjawabnya meskipun aku tau itu tidak akan membuatku puas, tapi apa salahnya kalu dicoba, toh tidak akan berdosa ketika aku berusaha untuk menjawabnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Aku yakin ini adalah fase dnimana semua orang pernah mengalaminya, ya fase keresahan jiwa, demna seseorang mulai resah dengan apa yang terjadi dengan dirinya baik itu mempertanyakan tentang keadaan dirinya atau potensi dan kekuranannya, dengan kata lain fase ini disebut fase pencarian jati diri. Dan aku baru sadar fase ini merupakan masa transisi kedewasaan berfikir, ketika aku salah dalam memilih jalan berfikir maku selamanya aku akan terjerumus dan tersesat, karna sebuah pandangan hidup akan menginternalisasi dan mengkristal dalam diri dan mungkin ini yang disebut watak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dengan perangkat yang sudah aku siapkan, yakni segelas kopi panas yang aga sedikit pahit dan beberapa batang rokok, malam ini aku putuskan untuk bergadang. Aku beranjak dari tempat tidur dan kemudian bergerak menuju kursi yang berada di luar rumah. Malam itu terasa begitu dingin dan senyap yang terdengar hanya suara kodok, jangkrik dan lolongan anjing yang saling bersautan. Sambil bersandar pada kursi sejenak aku coba untuk menutup mataku dan mulai berfikir, tapi tanpa sadar anganku melayang entah kemana, fikiran itu mengajak aku melayang dan berkelana di alam antah berantah, kadang memikirkan keluarga, saudara-saudaraku, teman-temanku dan pikiran-pikiran lain yang sempat hinggap dan tertangkap oleh alam kesadaranku. Setelah anganku melayang menembus negri antah berantah itu maka ia kembali dan mulai dihinggapi oleh sebuah kata yang sampai sekarang belum terjawab, siapakah aku dan apa aku ? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Aku coba berusaha menenangkan fikiranku dengan menghisap kembali rokok dan menegak kembali kopi pahitku, setelah itu aku teringat dengan T Shirt yang aku ambil dari kakaku. Akupun beranjak dan mengambilnya kemudian duduk kembali pada tempat semula sambil memegang kaos tersebut dan membaca tulisannya secara perlahan, ” I Like Who I am”, ya aku suka siapa diriku, mungkin kurang lebih demikianlah artinya, tapi sesaat aku terhenyak kembali dengan pertanyaan yang secara mendadak muncul dalam fikiranku ”bagaimana aku bisa suka siapa diriku ketika aku tidak tahu siapa aku sebenarnya”. Aku kembali berfikir mencoba mendefinisikan kata tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sebenarnya aku kurang suka dengan pendefinisian karna menurutku itu sebuah pengekangan cara berfikir, mengkotak-kotakan dan terlalu memilahmilah dan membeda-bedakan. Tapi akhirnya aku menyadari bahwa hanya dengan definisilah kita bisa tahu mana batasan dan arahan yang akan dicapai dan dituju, setidaknya itu kegunaan yang aku tahu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Aku, aku adalah anak dari kedua orang tuaku, aku adalah anak ke delapan dari sepuluh bersaudara, aku adalah adik dari ketujuh kakak-ku dan kakak dari kedua adik-ku. Aku adalah seorang manusia yang memiliki kepala, badan, tangan, kaki, mata, telinga, mulut, hidung dan angota tubuh yang lainnya, aku yang yang membutuhkan makan, minum, pakaian, tempat tinggal, perlindungan serta alat material lainnya. Aku adalah seorang hamba (khalifah di bumi) dari Tuhan dan agama yang aku percayai. Aku adalah seorang pelajar yang belajar di sekolah swasta disatu daerah. Dan aku adalah makluk sosial yang berinteraksi dengan masyarakat dilingkunganku. Aku adalah seseorang yang membutuhkan cinta dan kasih sayang dari orang di sekitarku, yang mempunyai rasa benci, senang, sedih dan lain sebaginya. Ya, itulah aku. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tapi dari semua definisi diatas, semua orang juga mengetahuinya lagi pula itu sudah biasa diucapkan dan gak perlu ditanyakan kembali. Definisi-definisi yang aku sebutkan tadi seakan membuat aku tersentak karena dri sana aku bisa tahu pernah sebenarnya dalam hidup, tapi tetap saja aku belum merasakan kepuasan karna semua terkesan begitu standar dan serupa dengan yang lain, aku meyakini ada sesuatu yang lebuh mendasat dari itu semua. Dari sini aku berfikir pasti ada sesuatu yang lebih mendasar dari kategori dan definisi-definisi yang aku sebutkan tadi, tapi apa ?. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Aku mencoba menganalisa kata dari definisi-definisi diatas dan kemudian mengklasifikasikannya. Pertama, Aku sebagai seorang anak dari kedua orang tua yang mempunyai postur fisik berarti aku yang mempunyai unsur biologis atau materi, Kedua aku sebagi hamba dari Tuhan dan memeluk satu agama berarti aku yang memiliki aspek Spiritual, dan Ketiga aku yang memiliki rasa kasih sayang dan cinta serta ingin dicintai dan disayangi oleh orang disekitarku berarti aku yang memiliki aspek Psikologis. Sedangkan aku sebagai seorang kaka merangkap sebagi seorang adik kemudian sebagai seorang pelajar dan yang lainnya berarti aku disini adalah aku yang meiliki peran, peran yang aku mainkan dalam situasi dan kondisi tertentu. Ya, ketika aku berada di rumah berarti aku harus berperan sebagi seorang anak yang bisa bermanja-manjaan dan lain sebaginya, ketika aku sedang berkumpul dengan kakak-kakaku berarti aku harus berperan sebagai seorang adik, ketika aku sedang berada dengan kedua adikku berarti aku harus berperan sebagi seorang kakak yang harus mengayomi dan melindungi mereka, dan ketika aku berada di di sekolah atau didalam lingkungan masyarakat berarti aku harus menjadi seorang pelajar yang baik dan menjadi anggota masyarakat yang baik serta bersikap seperti seorang pelajar yang terpelajar. Maka ada benarnya apa yang dikatakan orang bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara, dimana kita dituntut harus memainkan peran kita masing-masing, tapi aku fikir dalam sandiwara ini tidak ada sutradara yang bisa menghakimi sesuka dia ketika kita melakukan sebuah kesalahan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Aku heran dengan peran-peran tersebut, mengapa peran yang harus kita mainkan banyak sekali, kadang kita harus begini, harus menjadi seperti ini dan seperti itu, aku fikir itu adalah kemunafikan. Apa benar aku ini adalah seorang yang munafik yang tidak mempunyai pendirian dan harus memainkan banyak peran yang berbeda-beda, atau lebih halusnya aku adalah seorang yang labil yang tidak mempunyai prinsip sebagai pegangan !. serntak aku tersadar kembali dan berfikir, kalau keadaannya seperti itu peran yang aku mainkan sampai sekarang adalah topeng, ya, manusia semua memakai topeng sebagai peran dalam hidup dan aku memahami kita mempunyai banyak topeng bahkan 1000 topeng kita pakai. Topeng yang kita pakai dari ”a” sampai ”z” adalah topeng dari peran yang harus kita mainkan, jadi dari ”A” sampai ”Z” itu adalah kita sendiri dan itu bukan berarti bahwa kita labil yang tidak mempunyai sebuah prinsip dan munafik, karna aku meyakini itu merupakan sebuah fleksibilitas dalam hidup. Aku yakin bahwa hidup ini tidak rijid dan kaku semua mempunyai titik temu yang bisa ditarik kekanan dan kekiri seiring perubahan yang terjadi tapi tidak melupakan pedoman/prinsp yang menjadi pegangan dalam hidup termasuk norma dan nilai-nilai Universal.&lt;br /&gt;Memang dalam menghadapi kehidupan mau tidak mau dibutuhkan banyak peran, tapi tentunya semua tidak harus berbenturan antara satu dengan yang lainnya, karna semua dapat saling melengkapi dan sinergis. Hidup dengan berbagai macam peran memang tidak mudah, terkadang kita suka terkecoh dengan situasi dan kondisi yang sedang kita hadapi dan terkadang kita suka bersikap tidak sesuai porsi, porsi yang dimaksud adalah sikap yang sesuai dengan situasi yakni sikap yang proporsional (proporsionalisme), contoh mudahnya adalah bagaimana kita bisa berperan sebagai karyawan di dalam sebuah kantor dan menjadi seorang anggota masyarakat ditengah-tengah masyarakat, jangan sampai ketika kita hidup dalam lingkungan masyarakat kita masih tetap membawa lebel atau jabatan yang disandang dalam sebuah perusahan atau pekerjaan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Berbicara tentang konsep memang sangatlah mudah akan tetapi ketika berbicara dalam tataran taktis sangat sulit untuk dilaksanakan. Untuk dapat mengaplikasikan sesuatu maka kita harus dapat bersikap radikal, radikal disini bukan berarti yang dipahami khalayak banyak sekarang, akan tetapi Radikal dalam arti yang sebenarnya. Radikal dalam arti yang sebenarnya ialah berasal dari bahasa yunani yang berarti mendasar dan berakar, jadi ketika sebuah konsep akan diaplikasikan tentunya kita harus mengetahui arti dan maksud secara mendasar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pagi harinya aku merasa mataku sulit untuk dibuka sedangkan alarm dari jam wekerku terus berbunyi dengan nyaring seakan akan menusuk-nusuk gendang telinga ini. Karna jam weker itu berada jauh dari tempat tidurku maka akupum terpaksa harus bangun dan menjangkaunya untuk dimatikan. Setelah kaki dan badan ini aku gerakan ternyata mata ini enggan untuk dipejamkan kembali, maka aku putuskan untuk bergegas mandi. Setelah selesai membersihkan badan aku coba untuk membuka tirai jendela kamarku, tapi kayaknya matahari pagi ini kurang begitu bersahabat, sinarnya seakan menusuk mataku perih sekali, apa ini efek dari begadang ? tapi apa daya aku paksasakan juga mata ini supaya terus terjaga karena hari ini aktifitasku lumayan padat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Setelah beberapa jam aku melaksanakan aktifitasku, aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku dan itu cukup berpengaruh pada kosentrasiku untuk melakukan sebuah aktifitas. Entah perasaan apa yang terus menghantui diri perasaan ini seakan memaksa aku untuk berlari meninggalkan segenap rutinitas pekerjaanku sehari-hari, entah ini kejenuhan, kurang stamina, atau mungkin kekurangan vitamin karena banyaknya aktifitasku dalam bergadang. Tapi yang pasti perasaan ini membuat aku terasa hampa, kosong dan bahkan aku merasakan tidak ada sesuatu yang mengisi diri ini, seperti halnya gelas kosong yang kehilangan airnya karna telah diminum atau bahkan bagaikan sebuah rumah besar yang kumplit dengan segala perabotannya yang mewah tapi tidak ada penghuni didalamnya layaknya rumah tanpa tuan yang ada hanya keheningan dan kehampaan. Aku gelisah karna ada sesuatu yang memaksa aku untuk lari dan terus berlari, aku dipaksa untuk berteriak dan dipaksa untuk memikul sebuah beban yang sangat berat, berat sekali. Entah apa itu, yang pasti perasan itu membuatku tidak nyaman untuk terus berdiam diri apalagi tetap diam dan terjebak dengan berbagai macam rutinitas.&lt;br /&gt;Karna perasaan ini terus membawaku untuk lari kepada sesuatu yang tidak aku mengerti dan terus memenuhi otakku untuk memberontak pada rutinitas keseharianku maka aku putus untuk pulang dan beristirahat dirumah. Di atas kasurku yang sederhana itu, sebelum mataku terpejam aku berusaha memikirkan kejadian tadi yang terus membuatku gelisah dan merasa ada dalam kehampaan, tapi setelah beberapakali aku mencobanya ternyata tidak juga berhasil sampai-sampai anganku terus melayang dan membawaku kealam mimpi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tidakterasa ketika mata ini terbuka ternyata hari sudah merganti dengan malam. Setelah membersihkan badan aku merebahkan badanku di atas shofa sambil mengarahkan wajah ke Televisi yang berada tepat didepanku tapi telingaku tetap dijejali dengan air phon dari i pod. Aku mendengar suara tanpa gmbar dan aku melihat gambar tampa bersuara, semua seperti mimpi buruk tapi mimpi yang membingungkan dan terus bersemayam dalam ranah kesadaran. Malam semakin beranjak sepi, hiruk pikuk jalanan kini terasa hening. Anganku kembali melayang pada apa yang terjadi padaku siang tadi, sebuah kejadian yang membuatku terasa kering dan hampa maka dengan sekejap munculah pertanyaan yang sampai saat ini aku masih merasa bingung dan gusar. Apakah aku ini ?. sesekali kupikir pertanyaan tersebut mungkin ada sebuah hubungan &amp; korelasi dengan apa yang terjadi padaku sing tadi, ya, tentang kehampaan, kekosongan dan kegelisahan. Jadi sebelum aku memikirkan tentang Apakah aku ini sebenarnya, maka pertanyaan itu harus aku mulai dengan pertanyaan tentang kehampaan, kekosongan dan kegelisahan, yakni pertanyaan tentang Ada dan ketiadaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kebebasan, hati dan akal. itulah kata yang harus tetap diperjuangkan&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152766682014154595-4236945931819605255?l=matasyafiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasyafiq.blogspot.com/feeds/4236945931819605255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1152766682014154595&amp;postID=4236945931819605255&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/4236945931819605255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/4236945931819605255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasyafiq.blogspot.com/2007/04/aku-berfikir.html' title='Aku Berfikir'/><author><name>Syafiq jawad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09914612557031593997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R1VlKf1BS4I/AAAAAAAAAAw/5mcTtd6MBZ8/S220/IMG_5616.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152766682014154595.post-8956602329927373571</id><published>2007-04-23T02:38:00.000-07:00</published><updated>2007-04-23T02:48:16.365-07:00</updated><title type='text'>Aku dan apa yang ada dalam diriku</title><content type='html'>&lt;strong&gt;AKU DAN APA YANG ADA DALAM DIRIKU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Tanggal Dua Puluh Tujuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lahir pada tanggal dua puluh tujuh menunjukkan seseorang yang tertarik dengan kekayaan materi dibandingkan dengan orang yang lahir dengan tanggal kelipatan 9 lainnya (tanggal 9 dan 18). Orang 27 memiliki ikatan pernikahan yang kuat walaupun pengalamannya mungkin mengecewakan. Anda adalah pemimpin yang kuat, agak tekun, terkadang aneh dan tidak puas dengan kedudukan sebagai bawahan. Anda juga tidak suka bertanggung jawab terhadap tindakan Anda. Trampil dalam berbagai hal dan artistik, Anda juga memiliki bakat literatur dan bisa menjadi jurnalis, penulis, dosen atau guru. Anda bergairah dalam kasih sayang tetapi cenderung berlebihan. Keagamaan Anda lebih condong ke nilai-nilai religius Timur dan jauh dari ortodoks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Watak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Senang berkhayal- Kalau sudah marah, kata-katanya tajam- Tidak mempunyai pendirian tetap- Senang dipuji- Suka menolong pada sesama- Pandai bicara dan berotak cerdas- Agak pemalas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Kerbau: 01.00 - 02.59&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kerbau melambangkan kemakmuran lewat keuletan dan kerja keras. Orang yang lahir di bawah shio ini dapat diandalkan, dan bersifat tenang dan metodis. Mereka sabar dan pekerja keras, pula berpegang terus pada hal-hal rutin yang sudah menjadi tradisi umum. Meskipun ia biasanya memperlakukan orang lain secara adil dan merupakan pendengar yang baik, adakalanya sulit buat merubah pendapatnya sebab ia keras kepala dan kerap memiliki prasangka kuat.&lt;br /&gt;Namun, karena karakternya yang mantap, orang bershio Kerbau dipercaya untuk memegang jabatan tinggi yang membutuhkan tanggungjawab. Dalam hal memenuhi kewajiban, prestasinya tak akan mengecewakan. Namun, ia perlu berhati-hati supaya jangan mudah terbawa sikap yang terlampau serius.&lt;br /&gt;Di balik penampilannya yang bersahaja tetapi rapi, Kerbau berakal tajam dan berhati tetap. Kecerdasan dan kecakapannya tersembunyi di balik sifat pendiamnya dan sikapnya yang tidak memperlihatkan banyak perasaan. Tapi meski pada dasarnya ia seorang introvert, wataknya yang kuat dapat mengubahnya menjadi pembicara yang fasih dan bernada memerintah, begitu keadaan menuntut demikian. Pada waktu kekacauan timbul, pendiriannya yang kuat dan rasa percaya dirinya yang besar dapat membuat situasinya tertib kembali. Ia mampu tetap berjalan dengan kepala tegak.&lt;br /&gt;Orang yang lahir di bawah shio ini sitematis. Ia patuh terhadap pola-pola yang sudah mapan dan rasa penghargaannya terhadap tradisi besar sekali. Pada dasarnya, ia cenderung buat melakukan apa yang diharapkan dari dirinya. Bahkan pribadinya sedemikian dapat ditebak, hingga orang kerap mengkritiknya sebagai pribadi yang kurang berimajinasi. Namun Kerbau yang mengerti kewajiban tahu, bahwa sukses yang langgeng hanya dapat dicapai dengan mengerjakan segala sesuatu menurut cara yang benar. Pikirannya tidak menerawang ke mana-mana. Anda tak bakal melihatnya mengatasi kemelut dalam hidupnya hanya dengan menunggu sampai nasib merubah keadaannya. Kalau orang bershio lain mencapainya lewat tipu muslihat dan akal bulus, maka orang bershio Kerbau mencapainya lewat kegigihan dan dedikasinya yang luar biasa.&lt;br /&gt;Waspadalah terhadap batas kesabaran Kerbau, karena bila ia sampai naik darah, ia patut diperhitungkan. Tak ada lagi pertimbangan dalam dirinya: ia akan bertindak bagai banteng dan menyerang setiap orang yang berdiri di depannya. Satu-satunya cara adalah menyingkir sampai amarahnya reda kembali. Pendek kata, ia jarang meledak kecuali kalau situasinya tak tertahankan lagi olehnya.&lt;br /&gt;Kerbau dapat bersikap sangat polos kalau sudah menyangkut soal asmara. Ia tak dapat sepenuhnya memahami rayuan cinta dan tidak pandai pula mengembangkan strategi membujuk dan daya pikat lainnya buat membangkitkan perasaan kekasihnya. Jangan berharap lirik-lirik puisi dan kata-kata romantis dari mulutnya, karena ia tak punya ramuan yang tepat bagi hal-hal semacam ini. Hadiah yang diberikannya pun bakal bersifat seperti ia sendiri: bersahaja, namun langgeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="air"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Air&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang lahir pada tahun yang didominasi unsur Air mempunyai kemampuan besar untuk berkomunikasi dan melaksanakan ide-ide mereka justru dengan mempengaruhi orang lain untuk mewujudkannya. Pada dasarnya, mereka dikendalikan oleh perasaan dan akan mengekspresikannya sesuai dengan tingkatan yang dimungkinkan oleh shio mereka.&lt;br /&gt;Mereka berbakat dalam menentukan hal-hal yang akan menjadi penting dan mampu mengukur potensi-potensi masa depan dengan tepat. Mereka mencapai keinginannya dengan menunjukkan dan memanfaatkan bakat serta kemampuan orang lain. Meskipun demikian, pendekatan mereka tidak pernah membuat orang lain merasa telah dimanfaatkan. Sama seperti unsurnya, Air, mereka menyingkirkan penghalang terbesar dengan tenang disertai usaha yang terus-menerus. Mereka berbakat dalam membuat orang menginginkan apa yang ingin mereka capai -- dengan kata lain, mendorong daripada memaksa orang untuk melakukan suatu tindakan.&lt;br /&gt;Karena naluri mereka yang peka terhadap perasaan orang dan suasana lingkungan, mereka berubah-ubah seperti unsur yang mewakilinya. Salah satu sisi negatif adalah terlalu mudah terbawa lingkungan atau cenderung untuk memilih jalan termudah. Ciri terburuk mereka adalah dapat bersikap labil dan pasif atau terlalu menggantungkan diri pada orang lain. Agar dapat berhasil, mereka harus bersikap lebih meyakinkan dan menggunakan kemampuan persuasif mereka yang besar untuk mewujudkan ide-ide mereka. Orang lain semestinya bersedia mengikuti intuisi mereka.&lt;br /&gt;&lt;a name="kayu"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Leo – Singa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(23 Juli - 23 Agustus)&lt;br /&gt;Suka Memimpin, Dermawan Dan Murah Hati, Penuh Gaya, Aristokratik, Congkak, Percaya Diri Tinggi&lt;br /&gt;Nomor Keberuntungan : 6, 14, 19, 26, 39, 42&lt;br /&gt;Aroma Keberuntungan : Jahe, Jeruk Nipis, Jeruk, Rempah-Rempah&lt;br /&gt;Planet Yang Mengitari : Matahari&lt;br /&gt;Bunga Keberuntungan : Bunga Matahari, Mawar Merah, Bunga Apiun&lt;br /&gt;Warna Keberuntungan : Merah Bata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna MerahKamu termasuk tipe yang sangat berwibawa dan juga senang mengayomi teman yang lemah. Walau sering kali bergaul dan bercanda tapi kamu bisa menahan diri. Banyak orang mengatakan cinta, tapi kamu selalu berpikir dan berpikir lagi. Kamu termasuk tipe yang sulit jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu Keberuntungan : Berlian&lt;br /&gt;Elemen Keberuntungan : Api&lt;br /&gt;Pasangan Serasi : Aguarius&lt;br /&gt;Leo adalah anggota kerajaan segala zodiak. Mereka bermartabat tinggi dan sangat dramatis, mereka sangat gagah dan penuh warna, dan suka menjadi pusat perhatian. Mereka bekerja giat di dalam susunan organisasi dan pandai membagi tugas. Rencana mereka jarang terdengar namun selalu menakjubkan. Mereka penuh percaya diri dan terus terang dalam menyatakan apa yang mereka rasakan, namun terkadang mereka mudah sekali marah. Mereka memiliki keberanian dan tidak pernah berbuat curang. Leo mempunyai pembawaan diri yang mengagumkan sehingga menarik perhatian banyak orang. Orang leo sangat terbuka, sulit bagi mereka menyembunyikan perasaan dan diri mereka sendiri. Mereka pandai beradaptasi dan perhatian pada segala hal. Mereka dilahirkan untuk menjadi pemimpin dan akan sangat kecewa bila mereka tidak memiliki kekuasaan untuk mendelegasikan tugasnya. Mereka suka hidup seperti layaknya anggota kerajaan dan bersedia melakukan apa saja yang dibutuhkan untuk mendapatkan gaya hidup yang diinginkannya. Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan untuk membujuk orang disekitarnya melakukan apa yang diinginkan. Leo suka melakukan perbuatan yang besar dan terkenal dengan kedermawanannya. Mereka tidak pernah mundur dari suatu pertempuran dan selalu membela hak mereka dan kepercayaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Asmara para Leo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Leo selalu membanggakan dirinya sebagai pecinta yang hangat. Prilaku mereka nampak dengan sikapnya yang sombong dan sok kuasa tetapi sifat inilah yang membuat mereka menjadi sangat terkenal di dalam hal bercinta. Mereka tidak suka pasangan yang melebihi dirinya. Leo cenderung dermawan, pandai beradaptasi dan penuh perhatian. Mereka selalu menyenangkan pasangannya sehingga pasangannya selalu senang berada di dekatnya. Leo juga mudah cemburu bila pasangannya lebih memperhatikan orang lain daripada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Sabtu Kliwon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Justru orang seperti ini yang anda perlukan di pesta anda berikutnya, karena mereka begitu ramah, sopan, dan mudah terkesan, sehingga mereka dengan mudah membuat orang lain merasa betah di rumah anda. Mereka juga pintar mengucapkan kata-kata yang menyenangkan. Bahkan, mereka yang terlahir pada hari Sabtu Kliwon termasuk salah satu kalangan yang memiliki bakat alamiah dalam berbicara dan menulis jika mereka memilihnya sebagai pekerjaan. Mereka cenderung memperlakukan semua orang dengan baik, bahkan musuh mereka sendiri! Mereka tidak dikenal sebagai orang tegar yang berpegang pada pendiriannya. Akan sangat berguna jika mereka mau mengembangkan sedikit keberanian dan ketegasan, karena kelompok ini cenderung sangat mudah menyerah pada rintangan pertama. Mereka biasanya memperhitungkan dengan cermat segala tindakan yang akan mereka ambil. Dengan demikian muncullah pertanyaan: mengapa mereka sangat mudah terkecoh oleh penampilan seseorang atau sesuatu ? Mereka adalah pelanggan impian para pedagang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kebebasan, hati dan akal. itulah kata yang harus tetap diperjuangkan&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152766682014154595-8956602329927373571?l=matasyafiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://matasyafiq.blogspot.com/feeds/8956602329927373571/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1152766682014154595&amp;postID=8956602329927373571&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/8956602329927373571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1152766682014154595/posts/default/8956602329927373571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://matasyafiq.blogspot.com/2007/04/aku-dan-apa-yang-ada-dalam-diriku.html' title='Aku dan apa yang ada dalam diriku'/><author><name>Syafiq jawad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09914612557031593997</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://2.bp.blogspot.com/_FbAoNYbxTQ4/R1VlKf1BS4I/AAAAAAAAAAw/5mcTtd6MBZ8/S220/IMG_5616.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
